Home » Archives for November 2007
Diffentiation dari ESIA
Action Ide Bisnis di tempat Padat Persaingan
Sore ini (31/08) saat mendarat di Cengkareng terminal 2 F saya menjumpai sesuatu yang baru disana. Café internet! Idenya sebenarnya biasa saja yaitu menggabungkan antara café atau mungkin lebih tepatnya tempat minum kopi sambil menunggu pesawat, digabungkan dengan fasilitas internet.
Untuk akses ke internet mereka menyediakan 4 buah laptop yang terhubung dengan jaringan LAN sepertinya, (maaf saya agak kurang menggali informasi ini, karena lagi terburu-buru hingga melihat suasana dan papan tarif penggunaan internetnya saja!)
Ya, laptop atau note book! Bukan PC seperti yang ada di wartel. Ini pun menjadi nilai lebih dari café ini. Tempat yang strategis di antara tempat keberangkatan luar negri dengan maskapai luar negeri dan Garuda, yang lalu lintas orangnya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan terminal.
Seperti kita ketahui tentunya banyak orang asing atau pun penumpang yang sudah melek internet yang ada di terminal 2F ini. Dan tidak semuanya membawa laptop! Aha… tapi pasti mayoritas sudah mempunyai email atau minimal melek dengan internet.
Bila saya perhatikan sekilas, ada 3 unit laptop yang sedang dipakai saat saya disana dan ketiganya sedang akses email, sepertinya menghubungi keluarganya mengabarkan kalo mereka ada di Jakarata… mungkin…
Kenapa ide diatas yang saya pilih karena hampir 5 tahun yang lalu saat saya dan teman-teman kena delay pesawat di tempat yang sama, sudah mempunyai ide ini. Sebenarnya ada 2 ide pada saat itu pertama, pijat refleksi yang kini sudah banyak bahkan di lounge juga ada dan café internet ini!
Namun apa lacur, idiom dream big, start small dan do it now! Terbukti benar! Saya hanya baru sampai di dream big saja tidak ada start yang small apalagi do it now. Saya pun hanya bisa membathin apakah dream big saya yang lainnya juga harus bernasib seperti ini…? Jangan! Teriak hati kecil saya, just do it! (Cengkareng, penghujung hari di bulan Agustus 2007)
Pisang Goreng, Es Krim dan Nuklir
Hemm... Judul yang aneh...
Yap. tapi saya menulis artikel ini karena terkait dengan ke-3 benda itu.
Sore itu, saya baru pulang dari kantor dengan setumpuk tambahan pekerjaan yang harus dikerjakan di rumah karena belum selesai dikerjakan dari kemarin walaupun sudah lembur teru selama 2 hari ini. Motor vespa tua menemani perjalanan sore itu yang sudah mendung sejak keluar dari halaman kantor.
Tidak sampai 30 menit hujan deras turun dan saya bersama si vespa berteduh di bawah jembatan laying UKI bersama pengendara motor lain yang senasib. Sambil menghilangkan suntuk saya memesan bajigur dan pisang goreng.
Bajigur hangat dan pisang goreng terbungkus Koran saya terima. Hebat juga nich, tukang gorengan bungkusnya pake Koran kompas lhooo ?
Iseng sambil menikmati pisang goreng saya baca sobekan Koran itu, sebuah judul menarik perhatian saya: “Sarjana Nuklir Berjualan Es Krim” judul untuk memperingati hari buruh sepertinya.
Diceritakan pada artikel tersebut ada seorang Sarjana Teknik Nuklir yang kebetulan salah satu pegawai PT DI Bandung yang terkena PHK th 2003, kini berjualan es krim dan membuka warung kelontong yang marginnya “hanya” Rp 10.000~15.000 per hari.
Pendapatan ini tentunya sangat jauh dari yang dulu ia terima saat menjadi pegawai PT DI dan untuk menutup kekurangannya ia pun bekerja serabutan menerima proyek2 lain.
Sementara salah satu rekannya yang lain berjualan nasi goreng sebagai income untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Walaupun ia juga memiliki pendidikan sarjana dan sering dikirim keluar negeri semasa di PT DI untuk training-training.
Kalo dipikir-pikir kenapa mereka bisa sejatuh itu…?
Mereka pintar, cerdas dan terlatih di luar negeri untuk teknologi tinggi tapi tidak bisa belajar terampil di lapangan! OTAK KIRI lebih banyak menguasai pemikiran mereka.
Masih menurut artikel yang saya baca sambil menyeruout bajigur saya soalnya pisang gorengnya sudah habis pindah ke perut buncitku he…he…
Hal ini juga terjadi pada saat krismon dulu saat banyak Bank yang kolaps dan berjatuhan bangkrut. Banyak pegawai yang biasa berpenampilan necis harus jadi pengangguran! Dimana pada saat itu:
1. umur mereka sudah cukup tua
2. umumnya masih tinggal di rumah kontrakan atau minimal masih mencicil KPR
3. tidak ada jaminan pekerjaan dan pendapatan bagi mereka
sementara untuk mencari kerja di tempat lain mereka harus bersaing dengan sarjana-sarjana muda yang baru lulus, belum ada tanggungan dan bersedia di bayar jauh dibawah yang mereka yang terkena PHK inginkan.
Pada akhirnya mereka bersedia untuk downgrade menerima pekerjaan yang dibawah kemampuan mereka dengan bayaran yang juga dibawah pendapatan yang mereka terima dahulunya.
Wuih… saya berpikir seraya memandang tumpukan kertas di atas vespa saya… bagaimana kalo kejadian itu menimpa saya? Apa yang akan saya lakukan dengan tanggungan 1 istri dan 2 balita di rumah? Mau makan apa mereka?
Pengalaman kerja yang lama dan loyal sebagai pegawai yang disiplin ternyata tidak cukup menjamin kita akan bisa selamanya bekerja dan mendapatkan income dari sana! NO GUARANTEE!!!
Rasanya lebih mantab berjualan pisang goreng & bajigur seperti gerobak emang sebelah, tapi jumlahnya bisa mencapai 40 gerai, apa ndak jadi passive income tuch.
TAgihan si emang bajigur membuyarkan lamunan saya. Ternyata hujan telah berhenti. Saya pun beriap untuk pulang dan kembali ke rutinitas awal tanpa perubahan. Memang benar kata pa TDW
Take Action MIRACLE Happened, No Action NOTHING Happened.
Bungkus Pisang Goreng Part 2
Penasaran gara-gara artikel korang yang saya baca saat berteduh dibawah jembatan laying, di kantor kusuruh Ratmin, pesuruh kantor untuk mencari Koran Kompas terbitan 28 April 2007.
Walaupun sambil menggerutu tak sampai waktu makan siang Koran itu sudah sampai di mejaku. Langsung ko bolak balik mencari artikel yang kemarin. Pass, ketemu juga akhirnya, seperti dugaanku semula masih ada artikel yang lain disana.
Kini, membahas mereka yang berhasil karena PHK.
Ada seorang mantan pegawai bank BHS yang dilikuidasi kini sudah menjadi juragan mobil sewaan. Mobilnya sudah mencapai 7 unit mobil. Keberhasilan itu memang harus dibayar dengan harga yang cukup mahal menurutnya.
Bisnis ini dimulai dari satu mobil dan bukan disewakan tapi menjadi anter jemput anak sekolah. KArena langganan yang semakin banyak dan kepercayaan mereka, maka jumlah mobilnya pun bertambah. Belum lagi orang-orang yang menitipkan mobilnya dengan cara bagi hasil dengannya.
Tantangan yang terasa saat berpindah kuadran adalah:
- cemoohan dari anak yang biasa melihat bapaknya berpakaian perlente pergi ke kantor, kini hanya berpakaian seadanya
- keluarga menjadi malu, terutama anak-anak. Istri juga demikian, namun pada akhirnya dia mendukung juga.
- Mental yang kuat karena harus bekerja dari bawah, seperti menghubungi orang tua anak-anak tersebut untuk menyewanya sebagai antar jemput sekolah
Ada lagi mantan pegawai bank Papan Sejahtera, kini ia menjadi pemasok pakaian jadi untuk pelanggannya yang kebanyakan berasal dari luar pulau jawa. Hal ini diakuinya didapat dengan cara yang tidak sengaja.
Kejadiannya pada saat ia menjadi supir taxi mendapat penumpang dari Banjarmasin yang sedang kerepotan mencari sumber pakaian muslim untuk dijual di Kalimantan. Ia mengantarnya ke Pasar Baru, dan meninggalkan nomor telopon bila si ibu datang lagi ke Jakarta untuk berbelanja.
Awalnya ia mengaku meninggalkan no hp agar bisa menggunakan jasa taxinya, namun setelah beberpa kali mengantar dan melihat belanjaan ibu tersebut yang cukup banyak. Ia menawarkan untuk mencarikan barang dagangan ibu itu, dan mengirimnya ke Kalimantan.
Gayung bersambut! Ia pun kini sudah mempunyai cabang hingga ke Surabaya sebagai peamsok pakaian jadi muslim. Memang REZEKI ndak kemana, ada saja jalannya.
Artikel yang menarik…
Jadi teringat salah satu pembicara seminar yang saya pernah ikuti yaitu pada saat orang memulai usaha. Pasti akan ada waktu turunnya dulu. Sama persis seperti burung Rajawali yang akan terbang tinggi, tidak langsung menanjak ke atas tapi harus ada kurva turun dulu sedikit baru naik. Inilah filosinya dan tinggal tekad kita yang dapat mempercepat kurva turunnya agar cepat menanjak.
Melihat 2 artikel di Koran itu tampaknya kecerdasan intelektual (IQ) yang tinggi pada satu titik harus dibenturkan pada kenyataan hidup yang tidak bisa dihitung secara matematis maupun nalar. Kecerdasan Emosi (EQ) pada titik ini akan memerankan peranan yang lebih besar!
Pertanyaannya bagi saya kini adalah apakah orang lain akan memutuskannya bagi saya atau saya bisa menyiapkannya dari sekarang dan membuat keputusan independent bagi saya sendiri?
Atau mungkin melihat peluang lain untuk bergerak di 2 kuadaran? Walaupun hamper semua orang sepakat hal ini jauh lebih tidak mudah dalam memanage segala halnya. Keahlian ini tidak bisa didapatkan hanya dengan membaca buku dan ikut seminar…
EDUCATION + STREET SMART = SUCCESS
“Life is full of choices, but you can only choose one choice at a time” ME
Pasar Malam di Pabrik Gula Tjukir
Kemarin saya jalan-jalan lagi ke arah Kediri dari Surabaya, karena berangkat sudah agak siang maka saya agak kemalaman di jalan. Magrib saya baru sampai Jombang, menimbang jam-jam segitu biasanya truk besar dan bus malam baru pada keluar maka jalan ke Kediri lewat Kertosono pasti penuh mobil-mobil besar itu. Maka saya putuskan Jombang-Kediri lewat jalan pintas melewati PG Tjukir.
Sekitar jam18.30 saya melewati depan PG Tjukir dan berhenti disana. Ada sate kambing yang enak loch di depan pabrik gula itu he..he… Sambil menunggu pesanan datang saya perhatikan ada keramaian dengan lampu-lampu neon di jalan raya depan gerbang PG. Menurut pelayan rumah makan, itu adalah pasar malam kagetan! hanya ada sebulan sekali pada saat pembayaran tetes dari PG dan hanya 3-4 hari saja.
Wah!! Benar-benar niche market yang spesifik
- Calon customer memegang uang cash
- Waktu yang sangat pendek hanya 3-4 hari saja
- Tempat yang sangat ramai pengunjungnya (traffic)
- Produk yang dijual kebanyakan adalah kebutuhan rumah tangga, mainan anak-anak dan baju/fashion plus kuliner pada beberapa standnya.
- Pasar yang besar (fyi sekali giling bisa melibatkan ratusan petani)
Dia melihat karakter itu yang banyak dibeli oleh para pengunjung baik yang membawa anaknya atau pun yang membeli untuk oleh2 anaknya.
Prinsip diatas adalah sesuatu yang nyata didunia offline, demikian pula yang terjadi pada dunia online. Anda bisa mempersiapkan website yang khusus tentang kebutuhan Natal misalnya. Anda sudah mulai bisa membuat perencanaan dan survey produk sejak sekarang. Membuat websitenya sesuai dengan SEO dan mempromosikannya sesegera mungkin.
Happy looking for niche market with huge market guys.
Niche Market di Stasiun Sidoarjo
Sekitar 2 hari yang lalu saya berencana pergi ke Jember dengan menggunakan kereta Mutiara Timur dan naik dari stasiun kereta Sidoarjo. Kereta berangkat dari stasiun Gubeng-Surabaya sekitar jam 09.15 jadi kalo naik di Sidoarjo ya... sekitar jam 09.30-an lah. Karena baru pertama kali naik kereta ke Jember persiapan saya "kelewat matang" dalam artian tidak mau ketinggalan kereta, jadi sekitar jam 08.45 saya sudah ada di stasiun sidoarjo :(
Untuk mengusir rasa suntuk, iseng-iseng saya baca buku dan memperhatikan kereta yang datang dan pergi jam 08.45 tepat pada saat saya tiba di stasiun tampak KRL sudah siap berangkat menuju Surabaya, lalu berturut-turut di jam 09.00 - 09.05 kereta KRL yang menuju ke Malang dan kereta dengan nama Cantik berpapasan di stasiun sidoarjo dan disambung dengan kereta dari Blitar (saya lupa nama kereta ini...) pada jam 09.15.
Jadi, dari mulai saya datang hingga jam 09.15 sudah ada 4 kereta ekonomi yang lalu lalang. Tidak banyak kegiatan yang terjadi di stasiun hanya ada satu pedagang koran yang menawarkan korannya dan 2 penjual asongan yang kebetulan turun dari KRL yang lewat. Penumpang pun semakin banyak berdatangan di stasiun ini, seperti para penumpang kereta Mutiara Timur. Kereta ini sendiri terdiri dari 2 kelas Bisnis (4 gerbong) & Executive (2 gerbong). Saat itu kurang lebih ada sekitar 60 orang calong penumpang yang menunggu kereta ini.
Tepat pada saat ini tampak 6 orang anak muda dengan peralatan mengamen siap pentas!
Mereka membawa 1 bas betot besar; 1 gitar; 1 banjo; 1 gendang; 1 "kecrekan" dan satunya sepertinya alat musik modifikasi (bekas minuman kaleng yang diisi pasir-red) Mereka memperkenal diri dan langsung membawakan lagu jawa pop dengan musik yang lumayan masuk (ndak pales... pales kali gitu) sebanyak 3 lagu. Ya.. kurang lebih mereka menghabiskan waktu sekitar 15 menit lah. Kemudian salah satu pemuda tersebut berkeliling untuk meminta "saweran" dari para penumpang yang ada disana.
Karena mereka cukup menghibur maka banyak dari calon penumpang yang memberikan Rp 1.000 - 2.000 ke kantong bekas molto yang dibawa si pemuda pengamen itu.
Jadi, kalo semua penumpang yang ada di sana memberikan Rp 1.000 saja maka kelompok pengamen itu akan mendapatkan Rp 1.000 x 60 orang = Rp 60.000 dalam waktu 15 menit!!!! WOw, its not bad at all..
Yang kemudian menggeltik saya adala motivation mereka untuk mengamen pada jam tersebut. Mereka melihat peluang usaha yang sangat segmented saya rasa. Mereka tidak mengamen pada saat banyak penumpang KRL yang menunggu (biasanya orang2 yang sudah biasa menggunakan kereta ini tiap harinya) atau juga 2 kereta ekonomi yang dari luar kota. Mereka hanya membidik market (calom penumpang) kereta Mutiara Selatan saja. Niche market ini benar-benar mereka manfaatkan.
Iseng-iseng saya coba analisa sendiri mengapa niche market ini yang mereka bidik:
- penumpang kereta Mutiara Timur cukup mapan dan kebanyakan naik di kelas Executive;
- kereta ini bukan kereta ekonomi - sehingga kelompok masyarakat menegahlah yang akan naik kereta ini;
- calon penumpang yang menunggu cukup banyak; mungkin mereka sudah meniteni (survey-red) hal ini
- keliatannya probabilitas calon penumpang memberikan uangnya cukup besar dibandingkan dengan calon penumpang kereta yang lain
Hebat! mereka sudah membidik niche market yang terfokus- benar-benar segmented dan pada trafic penumpang yang cukup banyak. Peluang usaha pun terbuka lebar untuk mendapatkan uang di waktu ini.
Tepat 5 menit setelah mereka menyelesaikan lagu terahir kereta api Mutiara Timur tiba di stasiun sidoarjo.
Ternyata secara tidak langsung mereka sudah mempraktekkan teori ekonomi, berwirausaha dan berbagai macam teori yang banyak saya baca dari buku-buku.
Jadi malu, saya "baru" banyak bukunya mereka sudah mempraktekkannya.... hi..hi...hi... Bagaimana dengan anda?
ingin belajar niche market dan traffic untuk bisnis online anda? arahkan kursor anda di peluang usaha ini.
Menyeberang Jalan dan Membangun Bisnis
Jalan itu sendiri merupakan jalan dengan 4 jalur dan dibatasi oleh marka tembok jalan + 25cm tebalnya. Pagi itu sekitar jam 7.30 pagi, tidak ada jembatan penyeberangan, tidak ada zebra cross maupun "pak Ogah" yang menyetop kendaraan.
Sesekali terdengar suara mendecit dari rem kendaraan yang bergerak. Suara mesin motor pun tidak mau kalah meraung-raung, bak ribuan tawon mengejar pengganggu sarang mereka. Hal ini tampak jelas pada saat lampu hijau di persimpangan jalan. Wussh..Nggeng..wuing...din..dinn..teett... begitu bunyinya.
Saya pun membutuhkan waktu hampir 20 menit untuk memberanikan diri menerobos kendaraan yang bergerak tak beraturan pada jalur Sidoarjo-Surabaya, kini sudah ada 3 jalur kendaraan mobil di ruas jalan yang diperuntukkan untuk 2 jalur mobil saja. Ditengah jalan pun saya masih mendapat klakson dari mobil yang merasa terganggu karena saya menyeberang plus makian pengendara motor yang sudah terlambat masuk kantor tampaknya.
Wuih!!! sampai juga saya di atas tembok marka jalan. Sambil menyeka keringat saya pun berjalan santai menyeberangi jalur Surabaya-Sidoarjo. Jalan santai....? ya betul. saya pun baru menyadari saat duduk di kios aki yang saya tuju.
Setelah saya perhatikan, ternyata kepadatan di jalur Surabaya --> Sidoarjo berbanding terbalik 180 derajat dengan jalur Sidoarjo --> Surabaya. Disisi sebelah sini hanya berisi beberapa mobil pribadi dan motor, lebih banyak di dominasi kendaraan umum, angkot dan minibus antar kota (kami biasa menyebutnya Bison - ELP kalo di daerah BOTABEK.red).
Pemandangan ini membuat saya tertegun!
Jalur menuju surabaya itu pastilah didominasi para karyawan perusahaan yang sudah terlambat masuk kantor dan minimal takut di marahi bosnya, kalo tidak di potong gaji karena absen cekloknya sudah berwarna merah, atau tidak bisa menitip ceklok karena perusahaannya sudah canggih menggunakan absensi sidik jari. Seperti saya yang sudah pasti telat masuk kantor :(
Pengalaman kecil menyeberang jalan pagi itu, membuat tekad saya semakin bulat untuk membangun bisnis saya sendiri, ndak apa-apa mulai dari yang kecil dan bisnis sambilan (tapi tidak sambi lalu looh...)
- - Ya, hitung-hitung mengurangi kemacetan jalan lahh... kan berkurang 1 mobil he..he..
- - tidak akan stress lagi di klakson mobil dari belakang,
- - tidak marah & maki-maki sendiri karena mobil di serempet motor
- - ndah perlu bangun pagi untuk mengejar absen ceklok di kantor :)
- - bisa menyambut pagi dengan keceriaan tanpa stress di jalanan,
- - bila punya bisnis sendiri mungkin jam segini masih bisa main tenis dulu ya?





Join The Community