Manusia 4 Quadrants

Apakah Quadrant terbaik yang ada di 4 cashflow quadrant Robert T.Kiyosaki? Apakah benar quadrant sebelah kanan selalu lebih baik dari yang disebelah kiri? Apakah semua orang harus jadi businesman? Namun, Nabi Muhammad SAW pun mengajarkan untuk berdagang atau berbisnis.

Be Yourself-Look for your passion

Jadilah diri sendiri, cari the real passion yang kamu punya dan bekerjalah berdasarkan itu maka semuanya akan terasa lebih mudah dan ringan, semua tampak santai untuk dijalani dengan hasil yang sangat berbeda bila kamu terpaksa melakukannya

Online Business

Semakin maju peradaban ini memuat semua transaksi juga mengalami perubahan drastis, apakah anda akan menjadi konsumen atau ingin terlibat langsung dan mendapatkan rezeki dari bidang baru ini?

Tak Ada Waktu Membaca

Buku adalah jendela ilmu dan dunia, bila anda tak punya waktu untuk membaca buku namun ingin mendapatkan kesempatan menambah ilmu maka baca saja ringkasan atau intisarinya, anda tetap mendapatkan informasinya tanpa harus membuang waktu anda.

Olahraga Yuk's

Belajar untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh dengan melakukan exercise yang benar dan mengkonsumsi makanan yang bergizi tentunya

Miliarder Vs Orang Biasa



#1
Para miliarder mengatur pengeluaran di bawah pendapatan
Orang biasa sering kedapatan besar pasak daripada tiang

#2
Para miliarder tidak suka berjudi
orang biasa berharap mendapatkan durian runtuh

#3
Para miliarder selalu belajar dari kesalahan
orang biasa hanya bisa menyesali kesalahan

#4
Para miliarder selalu digerakkan oleh tujuan utama
orang biasa digerakkan oleh hal-hal yang membuat hidupnya terdesak

#5
Para miliarder memiliki kontrol emosi yang tinggi
orang biasa gampang marah, menangis atau kecewa

#6
Para miliarder selalu mengingat tujuan utamanya
orang biasa terombang-ambing karena tidak punya tujuan

#7
Para miliarder selalu konsisten dalam pencapaian tujuan
orang biasa memiliki keinginan yang selalu berubah=ubah

#8
Para miliarder memiliki daftar yang harus dilakukan
orang biasa selalu mengerjakan semua hal

#9
Para miliarder memilih pekerjaan yang benar-benar mereka cintai
orang biasa memilih pekerjaan yang menawarkan gaji besar serta benefit lainnya

#10
Para miliarder menekuni yang mereka cintai
orang biasa bekerja karena terpaksa

#11
Para miliarder bekerja sepenuh hati
orang biasa bekerja demi uang

#12
Para miliarder melakukan sesuatu sampai selesai
orang biasa sering bekerja setengah-setengah

#13
Para miliarder terbiasa fokus pada satu pekerjaan
orang biasa pikirannya banyak cabang

#14
Para miliarder tidak suka menunda pekerjaan
orang biasa selalu mengerjakan banyak hal sehingga sering menunda pekerjaan

#15
Para miliarder memberi nilai lebih saat bekerja
orang biasa bekerja sesuai job descriptions

#16
Para miliarder selalu melangkah maju untuk pertumbuhan bisnis
orang biasa berpikir sangat panjang dalam memulai sesuatu dan sering tidak jadi karena takut

Fenomena GO-JEK di Jakarta, merambah ke kota Anda?

Akhir-akhir ini saya banyak mendengar dan membaca tentang fenomena GOJEK terutama dari social media seperti Facebook dan TWITTER wall saya, banyak cerita yang miring sampai "tegak" :)
Nah, pasti kalian sudah banyak yang tahu kan atau sudah jadi pelanggan setianya saat ini?


Hari ini saya nemu cerita dalam status FB salah satu network saya - berikut ceritanya (tanpa saya edit hanya copas saja neeh) -

HANYA SEKEDAR UNTUK MENAMBAH WAWASAN SAJA.
=============================================
Kenapa Tukang Ojek di Gojek bisa Mendapatkan Income Hingga Rp 10 juta per Bulan?
Gojek sejumlah media menulis kisah yang menggugah. Jika tekun menarik order, seorang tukang ojek di Gojek bisa mendapatkan income hingga Rp 10 juta per bulan.Sebuan pencapaian yang sangat mengesankan. Terutama untuk profesi yang selama ini dianggap kelas pinggiran.
Kisah tentang Gojek adalah narasi tentang social innovation, keajaiban teknologi aplikasi, dan kejeniusan ilmu supply chain management.
Mari kita bedah satu demi satu dengan renyah di pagi hari ini.
Sejatinya GOJEK adalah perusahaan penyedia jasa transportasi yang berbasis pada kekuatan magis teknologi aplikasi. The power of Apps.
Salah satu sumber inefisiensi layanan tukang ojek adalah masa ngetem yang terlalu lama. Idle time kalau dalam bahasa supply chain management. Waktu kosong yang hilang sia-sia.
Gojek dengan kekuatan aplikasinya yang real time mampu memotong masa tunggu itu (ngetem untuk dapat order) dengan dramatis. Ribuan calon pelanggan yang telah mendownload aplikasi Gojek yang user friendly – dibuat untuk mudah melakukan pemesanan order pengiriman (entah jasa antar orang, dokumen atau barang).
Lantas ribuan order yang terkumpul itu, di-distribusikan oleh Gojek ke ribuan armadanya, yang berada pada titik paling dekat dengan yang memberi order, secara real time, seketika. Proses ini berlangsung secara kontinyu, real time.
Dengan proses sperti itulah, maka level produktivitas pengojek naik secara sangat signifikan. Dengan kekuatan ajaib aplikasi yang bersifat real time, masa tunggu pengojek bisa ditekan hingga nyaris titik nol.
Apa yang terjadi saat produktivitas naik secara dramatis. Otomatis, income juga bisa melesat ke level yang tak terbayangkan.
Just In Time Inventory. Ini adalah prinsip legendaris perusahan-perusahaan hebat Jepang seperti Toyota. Saat masa tunggu inventory bisa dibuat menjadi zero.
Dan persis prinsip seperti itulah yang diterapkan oleh Gojek dengan kekuatan aplikasinya. Hasilnya adalah keajaiban : seorang tukang ojek bisa mendapat income 10 juta per bulan.
Gojek mungkin contoh keindahan inovasi sosial berbasis teknologi : bagaimana kekuatan aplikasi (digital apps) bisa dimanfaatkan untuk memberdayakan ekonomi kaum kelas pinggiran (tukang ojek).
Ya, niatan untuk mengentaskan kemiskinan memang tidak diperoleh dengan demo, spanduk, rapat di gedung parlemen atau teriak-teriak di jalanan.
Kekuatan sebuah aplikasi yang jenius acap jauh lebih powerful dari itu semua. This is the beauty of digital technology.
Namun inovasi sosial yang jenius dari Gojek ini mendapatkan tantangan dari dua kekuatan. Dan keduanya bisa menghancurkan bisnis Gojek.
Yang pertama adalah resistensi dari para tukang ojek pangkalan. Ini adalah potret muram dari proses inovasi teknologi : bagaimana kekuatan otak (kemudahan teknologi digital ) harus berhadapan dengan kekuatan otot yang enggan menerima proses perubahan zaman.
Dan kita tahu, pertempuran melawan kekuatan otot acap jauh lebih melelahkan dibanding harus bertarung melawan kekuatan otak.
Proses inovasi teknologi memang kadang justru gagal karena masyarakatnya sendiri secara sosiologis tidak siap menerima perubahan. Fenomena yang juga lazim terjadi dalam berbagai kisah perubahan korporat (corporate transformation process).
Status quo dan comfort zone kadang menjadi dua algojo yang acap sukses menjegal potensi kekuatan inovasi.
Kekuatan kedua yang juga bisa merobohkan bisnis Gojek datang dari rival yang tak kalah menggetarkan. Yakni Grab Bike. Perusahaan yang sama dengan Gojek, namun datang dari pengusaha Malaysia. Dan dengan dukungan modal hingga 2.5 triliun.
Dengan dukungan dana nyaris tak terbatas itu, Grab Bike langsung meletuskan amunisi peperangan. Mereka segera meluncurkan “predatory pricing war” : tarif promosi ojek Grab Bike hanya Rp 5 ribu kemana saja (tarif promosi Gojek 10 ribu, dan kini sudah naik ke 15 ribu).
Grab Bike juga memberikan upah ke pengojeknya 90% dari total order, sementara Gojek hanya 80%. Grab Bike juga memberikan program berangkat umroh kepada pengojeknya yang berprestasi (akhirnya tukang ojek juga bisa naik umroh. Bukan hanya tukang bubur).
Perlawanan keras dari Grab Bike itu segera membuat Gojek agak gentar. Pricing war yang berkepanjangan pada akhirnya bisa membuat keduanya malah bangkrut. Bisnis memang kadang brutal dan tak kenal ampun.
Kita tidak tahu apakah Gojek akan bisa mengatasi perlawanan dari dua dimensi yang berbeda itu dengan sukses (resistensi dari ojek pangkalan dan rivalitas bisnis dengan Grab Bike).
Btw, pendiri Gojek sendiri Nadiem Makarim bukan anak muda sembarangan. Pria muda Jakarta ini alumnus Harvard Business School (sekolah bisnis terbaik di muka bumi).
Dengan mudah Nadiem sebenarnya bisa melamar kerja di Wall Street dengan gaji puluhan ribu dollar per bulan. Namun ia memilih pulang ke tanah airnya, demi membangun bisnis yang memberdayakan kaum kelas pinggiran. Melalui kekuatan aplikasi digital.
Jajaran manajemen dan pendiri Gojek lainnya juga diisi oleh para alumnus dari sekolah bisnis hebat seperti University of Chicago. Dan rata-rata pernah bekerja di perusahaan kelas dunia.
Dari sisi kualitas, SDM yang menduduki peran kunci di Gojek sebenarnya setara dengan mutu SDM di perusaahaan top seperti Google, Microsoft ataupun IBM.
Mereka secara kolektif adalah one of the best management brains di tanah air.
Saya sendiri berharap Gojek bisa berhasil dalam misinya. Mereka bertekad untuk merekrut puluhan ribu pengojek baru.
Mungkin Anda berminat juga? Lumayan kan kalau dapat 10 juta per bulan Daripada kerja lembur namun gaji hanya sekelas UMR
Jika bisnis Gojek berhasil, dampak mereka dalam memberdayakan ekonomi kaum kelas pinggiran bisa sangat mengesankan.
Sekali lagi, itulah kekuatan social innovation yang berbasis pada kekuatan teknologi digital.
Welcome to Digital Innovation. Everyone is Invited.
by: MUSLIM ENTREPRENEUR
"Sharing Wirausaha Muslim & Permodalan"
# gambar ambil dari google grin emoticon



Cobaan Hari-1 Lebaran

background: 2 PSP tercebur ke got depan rumah eyang

Pagi ini kami merayakan Idul Fitrhi 1436H atau 17 Juli 2015 dalam kalendar Masehi di rumah dan setelah sholat Ied berencana untuk ke rumah orang tua di daerah Bekasi. Semua bersemangat bahkan si kecil yang baru berumur 6 bulan setengah pun ikut berangkat ke lapangan untuk menunaikan sholat idul fithri bersama dengan saudara-saudara nya yang lain. singkat cerita setelah sholat kami pun berangkat ke rumah eyang - "mudik" ceritanya yang hanya berjarak 25km dari rumah kami :)

seperti biasa semua membawa perangkatnya masing-masing, si abang membawa oppo barunya, biar bisa nge"line" sama teman-teman katanya, sedangkan no.2 sibuk mengendong adiknya dan memintaku untuk membawakan laptopnya karena akan maen "game" sedangkan; si aa atau koko aku memanggilnya - mengalungkan 2 gadget PSP di lehernya, si kecil tertidur lelap seperti biasanya. Saat sampai di rumah eyang, entah bagaimana caranya 2 gagdet di leher si aa terjatuh dan "menyelam" dengan sukses ke dalam got/saluran depan rumah eyang !!!!! GRRrrhhh....

baru juga selesai ramadhan dan bermaaf2an langsung dimendapatkan cobaan hasil sebulan puasa kemaren... benar-benar kontan nich!

ternyata aku sedikit ndak lulus tuh, karena langsung sibuk memarkirkan mobil dan mencoba secepat kilat mengambil 2PSP itu dari dalam got, membersihkannya dengan tissue kering dan dengan tidak lupa melotot ke si koko dengan bergumam pelan - "Kamu di grounded, ndak boleh main game di semua gadget selama sebulan!" sampai-sampai bersilaturahmi dengan saudara yang lain pun tertunda karena kejadian spektakuler itu.

setelah ke2 PSP itu kering, pun tidak bisa dinyalakan kembali tentunya dong..
terbayang sudah rupiah yang harus dikeluarkan untuk membuat kedua gadget itu dapat di pakai kembali. Bah! mulai tahap menyalahkan "semua" masuk kedalam otak pikiran ini. tahapan menginterogasi - ini bahasa halusnya untuk bersiap marah ke dia - aku lakukan dan tampaklah wajah tak berdosa anak usia 7 tahun yang berusaha tegar, menahan tangis dan menjelaskan kronologis kejadiannya.

BAP berlangsung cepat termasuk memanggil kedua kakaknya untuk mementukan jenis hukuman apa yang layak diberikan ke adiknya yang lalain ini. Saat kedua kakak itu berdiskusi tentang hukuman apa yang harus diberikan dan berapa lama, hati saya trenyuh melihat wajah polos si koko yang tampak pasrah dengan semua yang akan terjadi. sebelumnya saya lihat dia sudah menangis dan menjelaskan ke ibunya mengapa dia sampai lalai, dalam isak tangisnya. Namun, saat acara BAP berlangsung dia berusaha untuk menahan tangisnya dan mencoba bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, walaupun itu tidak sengaja menurut versinya sendiri. 

Wajah polos itu hanya membuat ku berpikir: apakah sudah benar yang aku lalukan terhadapnya? apakah emosi yang kutunjukkan masih belum sepenuhnya terkendali?
saat itu teringat salah satu ceramah pa ustadz dalam tarawih kemaren - "merugilah orang-orang yang berpuasa namun hanya mendapatkan lapar dan haus saja" kebetulan bagian ini saya ndak ketiduran dalam masjid tuh, beneran ndak ada bekasnya tuh sebulan berpuasa -- semoga tidak demikian adanya.red :'(  

Setelah lontong sayur satu piring penuh masuk perut mulai lah proses introspeksi diri berlangsung dalam pikiran saya: Kenapa kejadian ini terjadi ya?
hal pertama yang terlintas adalah - kamu telah menunda niat pembayaran shodaqoh...
Ya. 2 minggu lalu saya berniat untuk memberikan shodaqod ke mesjid yang saya tunda hingga hari lebaran tiba. Saya perkirakan biaya perbaikan kedua gadget itu akan memakan Rupiah sejumlah shodaqoh yang tertunda itu. Wallahualam bishawab tapi rasanya ya seeh...

setelah jumatan hari ini dan bercanda lembali dengan c koko - oh ya kaka2nya menghukum dia 1bulan tanpa gadget dan si koko menerimanya - dan membicarakan dengan ibunya apa yang bisa dia lakukan untuk mengisi 1 bulan masa hukumannya, karena akan berat pastinya bagi si koko, dibandingkan saudara2nya yang lain dia yang paling gemar bermain game dan bisa tahan berjam-jam untuk bermain. Dan saya ceritakan pikiran saya tentang shodaqoh yang tertunda itu dan dia hanya menjawab... "Yaitu lah, kalo dah niat ya dikeluarkan dong! jangan ditunda-tunda dan dipikir-pikir lagi, kan kamu juga yang ngajarin aku kalo dah mau shodaqoh langsung keluarkan saja ndak usah dipikir-pikir lagi" --- Jleb! rasanya, nasihat yang disampaikan dengan lembut pun terasa mengiris hati ini loh, sakitnya tuh disini!

Terima kasih atas pelajarannya Ya Allah, ijinkan hambamu memohon maaf mu dan mengambil hikmahnya dari kejadian ini.

NB. saat ini jam 13:17 - kedua gadget sudah bisa nyala, hanya satu tidak ada gambarnya dan satunya ada gambarnya namun joy stick nya tidak bisa digunakan, semoga aku dapat discount dari shodaqoh yang tertunda itu - (manusia memang tidak pernah mau merugi, walau sebenarnya mereka adalah mahluk yang merugi bila tidak mengikuti pentunjuk yang telah diberikanNya.

Bisa... Tidak Bisa...

Malem ini dapet postingan di grup WA tetang kata BISA dan NDAK BISA, postingannya berbunyi :

Ketika kita berkata BISA, maka sejuta jalan akan terbuka


Ketika kita berkata TIDAK BISA maka ada 1001 kata siap jadi alasan


Kalo dipikir-pikir dan agak direnungkan sedikit, maka postingan kawan ini ada juga benarnya ya. Bersikap positive adalah sikap yang tepat untuk menerapkan prinsip ini.

Jadi, ingat cerita yang memiliki makna inti yang sama seperti postingan diatas itu. Mau dengar ceritanya? Begini... di jaman dahulu kala... :)

Seorang pengusaha sepatu sedang mengetes dan interview beberapa orang kandidat untuk menjadi marketing manager di perusahannya. Setelah beberapa tahap dilalui maka tinggal sisa 2 orang yang ada ditahap akhir. Maka sang pengusaha sepatu ini mengutus masing-masing kandidat ke salah satu negara afrika yang sedang berkembang.

Misi mereka cukup simple dan sederhana, datang kesana lalukan survey dan apakah kita layak membuka cabang bahkan pabrik disana untuk menjual sepatu yang dijual oleh perusahaannya.

Setelah 2 minggu berselang maka keduanya telah kembali ke kantor pusat dan siap melakukan laporan terhadap tugas yang diberikan oleh sang pengusaha sepatu ini.

kandidat pertama - memaparkan hasil temuannya dalam banyak slide presentasi di power point. Dimana intinya dari laporan yang diberikan adalah - negara di Afrika tidak layak untuk membuka cabang, apalagi hingga membuat pabrik disana. Alasannya adalah hampir semua tempat dan kota yang didatanginya disana tidak ditemukan toko sepatu!

Setelah diperhatikan lebih seksama maka hampir semua orang Afrika di negara tersebut TIDAK menggunakan sepatu. Mereka lebih senang bertelanjang kaki. Jadi, afrikan bukan lah tempat yang tepat untuk berbisnis sepatu.

kandidat kedua - hanya ada satu lembar laporan dengan tulisan besar yang berbunyi: Big Opportunity untuk berjualan sepatu disana, karena

hampir semua orang afrika saat ini tidak menggunakan sepatu maka kemungkinan keberhasilannya akan besar bila kita mengedukasi mereka pentingnya menggunakan sepatu bagi kesehatan dan keselamatan mereka sendiri.

Nah - kandidat pertama mewakili TIDAK BISA dan kandidat kedua sebaliknya. Kira-kira siapa yang akan di angkat sebagai marketing manager di perusahaan sepatu tersebut.

Yup pasti jawaban anda sama dengan saya :)

Nah, saat kandidat kedua berkata kesempatan besar untuk mengembangkan industri sepatu disana. pada saat yang sama dalam otaknya sudah mulai berpikir bagaimana caranya, langkah apa saja yang perlu dipersiapkan dan dilakukan. Inilah yang terangsang saat dia berkata BISA,

kandidat yang lain karena sudah berpikiran TIDAK BISA maka saat itu juga muncul berbagai alasan yang bisa diajukan ke depan bos selama paparan/laporan berlangung. Hal inilah yang langsung terpikirkan olehnya saat melakukan paparan.

Nah, marilah kita mulai untuk membiasakan diri selalu berpikiran positif, karena ini akan menarik energi positif yang lain yang akan membantu kita secara langsung dalam melakukan suatu keputusan.

OK, jangan langsung berkata tidak bisa ya... padahan nyoba aja belom, baru liat atau denger doangan :)

You are unique

Suatu hari, seorang motivator terkenal membuka seminarnya dengan cara unik.

Sambil memegang uang pecahan AS $ 100, ia bertanya kepada hadirin, “Siapa yang mau uang ini?”
 

Tampak banyak tangan diacungkan, pertanda banyak yang minat.

“Saya akan berikan uang ini kepada salah satu dari Anda sekalian, tapi sebelumnya perkenankanlah saya melakukan ini.”

Ia berdiri mendekati hadirin.
Uang itu diremas-remas dengan tangannya sampai berlipat-lipat.

Lalu bertanya lagi, “Siapa yang masih mau uang ini?” Jumlah tangan yang teracung tak berkurang.

“Baiklah,” jawabnya, “apa jadinya bila saya melakukan ini?” ujarnya sambil menjatuhkan uang ke lantai dan menginjak-injaknya dengan sepatunya. "gila"

Meski masih utuh, kini uang itu jadi amat kotor dan tak mulus lagi.

“Nah, apakah sekarang masih ada yang berminat?”
Tangan-tangan yang mengacung masih tetap banyak.

“Hadirin sekalian, Anda baru saja mendapatkan sebuah pelajaran penting. Apa pun yang terjadi dengan uang ini, Anda masih berminat karena apa yang saya lakukan tidak akan mengurangi nilainya. Biarpun lecek dan kotor, uang ini tetap bernilai 100 dolar.”


Dalam kehidupan ini, kita pernah beberapa kali terjatuh, terkoyak, dan berlepotan kotoran akibat keputusan yang kita buat dan situasi yang menerpa kita.

Dalam kondisi seperti itu, kita merasa tak berharga, tak berarti. Padahal apapun yang telah dan akan terjadi, Anda tidak pernah akan kehilangan nilai di mata mereka yang mencintai Anda.

So, setiap kali merasa diri tak berarti, ingatlah akan selembar uang 100 dolar tersebut.

Jangan pernah lupa – Anda adalah SPESIAL.



Bahasa Vs.English dalam hitungan

Tau kah anda bila tanpa kesengajaan alphabet bisa kita berikan no mulai dari angka 1 untuk A hingga angka 26 untuk Z, maka kita dapat membentuk nilai beberapa kata dalam bahasa indonesia dan inggris.

Ada hal menarik yang saya lihat pada saat melakukan hal ini - Asumsikan angka 100% adalah nilai yang paling tepat dan sesuai dari suatu kata bila kita lihat dalam pengaplikasiannya dalam hidup kita sehari-hari.

Ngga percaya? Mari kita berhitung... .

 






Jika, nilai huruf-huruf ini kita anggap sbb (dalam %):
A B C D E F G H I   J   K  L  M  N  O   P  Q   R   S  T   U  V 

1  2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22

W  X  Y   Z 
23 24 25 26

Mari kita hitung sama-sama:
H A R D  W  O  R  K (kerja keras)
8 1 18 4 23 15 18 11 = 98% Only

 K  N  O  W  L  E D  G E (pengetahuan)
11 14 15 23 12 5 4  7 5 = 96% Only

 L  O  B B Y  I  N G (pendekatan)
12 15 2 2 25 9 14 7 = 86% Only

 L  U  C  K (keberuntungan)
12 21 3 11 = 47% Only

ternyata...
semua nilai dari usaha-usaha kita di atas nggak bisa mengalahkan yang satu ini:
 

        A  T   T  I  T   U  D E  (sikap/tingkah laku)
        1 20 20 9 20 21 4 5 = 100%


tapi ini rumus yang berlaku di negeri bule sono. Kalau di Indonesia sih, itung-itungannya jadi begini nich :


        G I G I H (hardwork)
        7 9 7 9 8 = 40% Saja

        I  L  M  U (Knowledge)
        9 12 13 21 = 55% Saja

         L  O  B I (Lobbying)
        12 15 2 9 = 38% Saja

        M  U   J   U  R  (Luck)
        13 21 10 21 18 = 83% Saja

        S   I  K A  P   (Attitude)
        19 9 11 1 16 = 46% Saja

         K  O  R  U   P   S  I
        11 15 18 21 16 19 9 = 109%

Jadi kalo di Indonesia yang paling penting bukan ATTITUDE tapi KORUPSI ?????!! !!!!


Nah, anda setuju ndak? hitungannya dah jelas loh :)

Love Your Job... but Don't Love the Company

Bahan renungan yang bisa kita, para employee/pekerja baca dan cerna dengan kejernihan akal pikiran kita sendiri. terutama bagi anda yang mengaku menjadi karyawan teladan :)

Dr APJ Abdul Kalam adalah CEO sebuah perusahaan IT dari India yang pernah berbicara dalam sebuah sesi dengan para karyawan tentang filosofi ini. CEO tersebut termasuk dalam 50 orang paling berpengaruh dalam dunia bisnis di Asia (dirilis oleh majalah Asiaweek). 

 
INTINYA CERITANYA ADALAH :


Bagi yang tertarik membaca pandangan dia secara mendalam, berikut kutipan kata-katanya:

Saya sering menjumpai orang-orang yang bekerja selama 12 jam sehari, 6 hari seminggu, atau lebih. Beberapa diantaranya melakukan hal tersebut karena diburu-buru oleh deadline, memenuhi target yang telah ditetapkan. Bagi mereka, waktu-waktu panjang yang penuh lembur hanyalah bersifat sewaktu-waktu saja. 


Adapula yang menjalani jam-jam panjang dalam hari-hari mereka selama bertahun-tahun: entah karena orang-orang ini merasa telah mengabdikan diri sepenuhnya kepada pekerjaan, atau bisa juga disebut workaholic.

Apapun alasan yang orang buat untuk bekerja lembur, kondisi tersebut berpengaruh TIDAK BAIK kepada orang yang menjalani maupun orang-orang sekitarnya. Berada dalam kantor selama berjam-jam dalam rentang waktu yang lama, bisa menimbulkan potensi yang cukup besar bagi yang menjalaninya untuk membuat kesalahan. 


Rekan-rekan saya yang saya kenal sering bekerja lembur, sering membuat kesalahan karena faktor kelelahan. Membetulkan kesalahan-kesalahan ini tentu saja membutuhkan waktu dan tenaga tidak saja dari dirinya sendiri, melainkan orang lain yang secara langsung maupun tidak langsung bekerja bersamanya.

Masalah lain adalah orang-orang yang bekerja pada perusahaan yang menetapkan waktu kerja yang ketat seringkali bukanlah orang-orang yang secara pergaulan menyenangkan. Parakaryawan dari perusahaan dengan tipe seperti ini sering mengeluh atau komplain mengenai orang lain (yang tidak bekerja sekeras mereka). Mereka menjadi mudah tersinggung, dan mudah marah. Orang-orang lain menjauhi mereka. Perilaku semacam ini secara organisasi tentunya merupakan masalah besar: hasil besar akan dicapai oleh sebuah organisasi apabila ada jalinan harmonis dalam kerja sama tim antar karyawannya, bukannya bekerja sendiri-sendiri dan saling menjauhi.

Sebagai seorang manajer, saya harus membantu orang lain untuk meninggalkan kantor tepat waktu. Langkah pertama dan terpenting adalah saya lah yang harus memberi contoh dan pulang ke rumah tepat waktu. Saya bekerja dengan seorang manajer yang menyindir orang-orang yang bekerja lembur terlalu lama. Ajakannya menjadi kehilangan makna ketika orang-orang menerima emailnya dan melihat jam email tersebut dikirim ternyata jam 2 pagi. Untuk mengajak orang melakukan suatu hal, langkah terpenting adalah memberi contoh dengan melakukannya sendiri.

Langkah kedua adalah mengajak orang untuk menjalani hidup yang seimbang. Sebagai contoh, berikut ini adalah langkah-langkah yang menurut saya cukup membantu:

  1. Bangun pagi, sarapan dengan menu yang baik, lalu berangkat bekerja..
  2. Bekerjalah dengan keras dan pintar selama 8 atau 9 jam sehari..
  3. Pulanglah ke rumah
  4. Baca buku atau komik, menonton film yang lucu, kumpul-kumpul dengan rekan-rekan.
  5. Makan yang sehat dan tidur yang cukup

Langkah-langkah ini disebut sebagai recreating. Mengerjakan langkah 1, 3, 4, dan 5 akan memungkinkan langkah 2 dilakukan secara efektif
dan seimbang.

Bekerja secara normal dan mempertahankan hidup yang seimbang adalah konsep yang sederhana


Langkah-langkah tersebut mungkin akan sulit dilakukan oleh sebagian orang karena orang tersebut akan menganggap perlunya perubahan mendasar yg bersifat personal pada dirinya.
 

Sebenarnya langkah-langkah ini memungkinkan untuk dilakukan oleh setiap orang, karena kita memiliki kekuatan untuk memilih apa yang
akan kita lakukan.'