Renungan #5

| |

Waktu itu, ketika saya masih seorang sukarel awan yang bekerja di sebuah rumah sakit, saya berkenalan dengan seorang gadis kecil yang bernama Liz, seorang penderita satu penyakit serius yang sangat jarang.

Kesempatan sembuh, hanya ada pada adiknya, seorang pria kecil yang berumur 5 tahun, yang secara mujizat sembuh dari penyakit yang sama. Anak ini memiliki antibodi yang diperlukan untuk melawan penyakit itu. Dokter kemudian mencoba menerangkan situasi lengkap medikal tersebut ke anak kecil ini, dan bertanya apakah ia siap memberikan darahnya kepada kakak perempuannya.

Saya melihat si kecil itu ragu-ragu sebentar, sebelum mengambil nafas panjang dan berkata "Baiklah... Saya akan melakukan hal tersebut.... asalkan itu bisa menyelamatkan kakakku".

Mengikuti proses tranfusi darah, si kecil ini berbaring di tempat tidur,disamping kakaknya. Wajah sang kakak mulai memerah, tetapi Wajah si kecil mulai pucat dan senyumnya menghilang. Si kecil melihat ke dokter itu, dan bertanya dalam suara yang bergetar...katanya

"Apakah saya akan langsung mati dokter... ?"Rupanya si kecil sedikit salah pengertian. Ia merasa, bahwa ia harus menyerahkan semua darahnya untuk menyelamatkan jiwa kakaknya. Lihatlah...bukankah pengertian dan sikap adalah segalanya... .

Read More...

Renungan #4

| |

Zaman dahulu kala, tersebutlah seorang Raja, yang menempatkan sebuah batu besar di tengah-tengah jalan. Raja tersebut kemudian bersembunyi, untuk melihat apakah ada yang mau menyingkirkan batu itu dari jalan.

Beberapa pedagang terkaya yang menjadi rekanan raja tiba ditempat, untuk berjalan melingkari batu besar tersebut. Banyak juga yang datang, kemudian memaki-maki sang Raja, karena tidak membersihkan jalan dari rintangan.Tetapi tidak ada satupun yang mau melancarkan jalan dengan menyingkirkan batu itu.

Kemudian datanglah seorang petani, yang menggendong banyak sekali sayur mayur. Ketika semakin dekat, petani ini kemudian meletakkan dahulu bebannya, dan mencoba memindahkan batu itu kepinggir jalan.

Setelah banyak mendorong dan mendorong, akhirnya ia berhasil menyingkirkan batu besar itu. Ketika si petani ingin mengangkat kembali sayurnya, ternyata ditempat batu tadi ada kantung yang berisi banyak uang emas dan surat Raja. Surat yang mengatakan bahwa emas ini hanya untuk orang yang mau menyingkirkan batu tersebut dari jalan.

Petani ini kemudian belajar, satu pelajaran yang kita tidak pernah bisa mengerti. Bahwa pada dalam setiap rintangan, tersembunyi kesempatan yang bisa dipakai untuk memperbaiki hidup kita.

Read More...

Sir Winston Leonard Spencer Churchill

| |

"Keuletan yang perlu kita tiru ..."-avie diambil dari website Andre Wongso.

Suatu hari di usia tuanya Winston Churchill mengunjungi sebuah sekolah dasar dimana ia pernah bersekolah saat masih kecil dan akan menyampaikan sebuah pidato. Sang kepala sekolah berpesan kepada murid-muridnya "Ini adalah saat-saat bersejarah, Winston Churchill adalah pembicara berbahasa inggris yang paling hebat. Tuliskan semua kata-kata yang diucapkannya. Ia akan menyampaikan sebuah pidato yang tak terlupakan"

Ketika Churchill berpidato, sejenak ia memandang ke anak-anak itu dengan kacamata yg dilorotkan, kemudian berkata :"Jangan. jangan. jangan pernah menyerah !!" lalu ia kembali ke tempat duduknya.

Sebagian besar murid sekolah tsb sangat kecewa dengan pidato yang sangat singkat itu, namun sang kepala sekolah merasa bahwa itu adalah pidato Churchill yang paling hebat. Sebuah ciri khas Churchill yang paling menonjol adalah keuletannya. Ia tidak pernah menyerah dan sikap itulah yang menginspirasikan Inggris saat Perang Dunia II untuk terus berjuang ketika yang lainnya telah menyerah.

Keuletan artinya terus berpegang pada perjuangan kita. Keuletan artinya kita konsisten dengan kata-kata kita. Keuletan adalah tentang "mengamalkan ucapan kita dengan perbuatan nyata".

Read More...