Manusia 4 Quadrants

Apakah Quadrant terbaik yang ada di 4 cashflow quadrant Robert T.Kiyosaki? Apakah benar quadrant sebelah kanan selalu lebih baik dari yang disebelah kiri? Apakah semua orang harus jadi businesman? Namun, Nabi Muhammad SAW pun mengajarkan untuk berdagang atau berbisnis.

Be Yourself-Look for your passion

Jadilah diri sendiri, cari the real passion yang kamu punya dan bekerjalah berdasarkan itu maka semuanya akan terasa lebih mudah dan ringan, semua tampak santai untuk dijalani dengan hasil yang sangat berbeda bila kamu terpaksa melakukannya

Online Business

Semakin maju peradaban ini memuat semua transaksi juga mengalami perubahan drastis, apakah anda akan menjadi konsumen atau ingin terlibat langsung dan mendapatkan rezeki dari bidang baru ini?

Tak Ada Waktu Membaca

Buku adalah jendela ilmu dan dunia, bila anda tak punya waktu untuk membaca buku namun ingin mendapatkan kesempatan menambah ilmu maka baca saja ringkasan atau intisarinya, anda tetap mendapatkan informasinya tanpa harus membuang waktu anda.

Olahraga Yuk's

Belajar untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh dengan melakukan exercise yang benar dan mengkonsumsi makanan yang bergizi tentunya

Showing posts with label Gojek. Show all posts
Showing posts with label Gojek. Show all posts

Mau income tambahan? atau jadi income utama?


Di era sulit mendapatkan pekerjaan saat ini Gojek ternyata menjadi salah satu alternatif solusi untuk dijadikan sumber pendapatan bagi sebagian orang. Sebagaian orang? atau banyak orang? :)

pernahkah terbayangkan bila anda akan didatangi Gojek dengan pengendara yang mungkin cukup terkenal di Indonesia ini. Bila anda tidak percaya berikut adalah contohnya - mantan pemain sepakbola nasoanl yang menjadi driver gojek -



atau lihatlah antrian para sarjana yang ingin melamar menjadi pengemudi gojek, salah satu photo yang saya dapat dalam akun sosmed saya. berikut gambar liputannya-




tidak kalah ketinggalan, pengemudi gojek yang sedang mengikuti program Doktoral atau S3. Mungkin beliau sedang melakukan survey langsung atau memang kebutuhan yang memaksanya untuk menjadi pengemudi gojek.




yang ini entah benar atau tidak karena ada pengemudi gojek cantik yang sempat menghebohkan sosmed di jakarta raya. Saya lihat di web liputan6.com tidak bisa dikonfirmasi apakah gadis cantik ini memang pengemudi gojek. Yang pasti meme nya sudah banyak di internet. seprti berikut: 




nah yang terakhir adalah sekedar intermezzo saja koq :)

tapi apakah menjadi pengemudi gojek adalah solusi karena pekerjaan yang sulit? berikut beberapa komentar pengguna yang di unggah di ranah internet. Anda bisa jawab sendiri melihat komentar mereka.


 


di akhir tulisan ini saya kembalikan ke para pembaca bagaimana menjawab pertanyaan yang saya jadikan judul artikel ini.



Rahasia Sukses GOJEK kini terungkap

Gojek memang masih fenomenal hingga saat ini (28/11/15), kemudahan dan kepastian adalah hal yang ditawarkan oleh mereka dan dibanding sarana transportasi yang ada saat ini di pasaran. Hal ini juga menjadi jawaban dari infrastruktur jalan yang tidak bisa berkembang karena ketiadanya ketersediaan lahan yang memadai terutama untuk ibukota Jakarta tercinta ini.


android yang ada digunakan sebagai basis operating sytem smart phone benar-benar dimanfaatkan oleh Karim.... sebagai penggagas Gojek ini. apalagi orang indonesia itu sangat senang menggunakan piranti smart phone dalam keseharian mereka. Coba aja lihat di jalan, mall, foodcourt atau tempat-tempat umum lainnya. Hampir semua orang menundulk dan focus melihat pada screen smartphone-nya, bila tidak minimal hampir setiap 10 menit sekali dia coba lihat tuh si screen.

Nah, kebiasaan ini dan harga yang semakin murah untuk dapat berlangganan akses data internet membuat orang indonesia (lagi) sangat berasa eksis dengan smart phone ditangan. Percaya atau tidak walau mereka harus membayar providernya sebulan sekitar 150rb sebelum ppn (paket data telkomsel berlangganan paling murah).

Cerdiknya (atau anehnya ya?) para oengguna internet ini merasa beruntung karena dapat mengakses banyak software gratis di internet dan bisa mengakes internet dari mana pun. Tanpa perlu mencari sinyal wifi. 




Mindest inilah yang dimanfaatkan Gojek dengan cara memberikan aplikasi gratis untuk order Gojek, bahkan ada program marketing yang member get member, dimana bila seseorang merekomendasikan link Gojek kepada temannya maka ia akan mendapat kan voucher gratis menggunakan fasilitas Gojek kemana pun ia mau.

Sebagai pengguna tingkat "rasa" aman juga jadi meningkat terutama untuk para wanita, kenapa? karena ada "rasa" kita kenal dengan tukang ojek yang kita tumpaki karena sistem Gojek memungkinkan kita biasa mengetahui nama si pengendara. Dan yakin juga bila sistem Gojek akan memonitor keberadaan tiap-tiap pengendaranya. coba bandingkan dengan ojek konvensional, bahkan sampai aja joke - jangan sampe para ibu-ibu cium tangan ke pengendara Gojek setelah turun dari motornya :D

Bukan hanya untuk mengantar manusia (:)) Gojek pun menerima delivery service untuk mengiriman dokumen sampai dengan minta tolong untuk membelikan nasi padang di rumah makan langganan kita. tidak sampai sepuluh menit pesanan akan datang. Kayaknya sistem Gojek memang bisa mendeteksi setiap keberadaan pengendaranya.

Namun seperti bisnis lainnya juga, pepatah ada semut ada gula juga berlaku di segment bisnis ini. Saat semua orang melihat apa yang dapat dilakukan oleh Gojek dan peluang bisnis apa yang diperlihatkan ditambah dengan besarnya value yang ada di segment ini maka orang lain pun ingin masuk dan berpartisipasi di segment ini. Bagi-bagi rezeki lah kata mereka.


Mulai dari yang memang sama persis atau disingkat ATP - Amati Tiru Plek, seperti GrabBike and Blujek atau pun yang alirannya

ATM - Amati Tiru Modifikasi, seperti Deliveree yang memodifikasi sistem Gojek namun mengkhususkan diri untuk pengiriman barang saja.

 Akhirnya customer juga yang akan diuntungkan, karena pasti biaya atau ongkosnya semakin murah dech.

Kelompok yang menentang juga tidak sedikit, seperti para pengemudi ojek pangkalan atau konvensional. sampai-sampai ada yang memasang spanduk melarang atau tidak menerima Gojek masuk ke wilayah mereka, sampai saya pernah membaca di sebuah artikel kalo pengemudi Gojek ini sampai-sampai dipukulin sama beberapa warga (atau disinyalir tukang ojek konvesional). 

Melihat kompetisi jenis ini teringat buku Marketingnya Hermawan Kertajaya yang bilang ada masanya nanti kompetisi akan chaos, yaitu ancaman kompetisi buat bisnis kita tidak datang dari bisnis sejenis namun dari hal yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan bisnis kita sendiri.

Gojek adalah salah satunya: pengojek konvensional bukan mendapat kompetisi langsung dari pengemudi Gojek, namun penggunaan teknologi lah yang mengalahkan mereka. Smart phone dengan android yang telah memasyarakatlah yang menjadi inti dari keberhasilan Gojek ini. Coba kalo orang indonesia ndak banyak pake smartphone berbasis android, mungkin sistem Gojek ini belum muncul saat ini.

Banyak pelajaran yang bisa kita dapat dari tulisan ini, 

  • bagi pebisnis: percayalah kompetisi kdang datang dari arah yang tidak diduga, seperti bagaimana rezeki juga datang dari arah yang tidak diduga-duga. Opprtunity bisa datang dari mana saja selagi kita bisa kreatif dan berinovasi maka bisnis baru bisa bermunculan. 
  • Bagi pengguna: kemudahan akan semakin banyak didapat dimasa mendatang, maka tingkat efektifitas and efesiensi kerja kita juga mestinya bisa ditingkatkan dong. 
  • Bagi saya:   Ehmmm.... akan ada selalu yang pertama kali, so let's do it and just start.


Fenomena GO-JEK di Jakarta, merambah ke kota Anda?

Akhir-akhir ini saya banyak mendengar dan membaca tentang fenomena GOJEK terutama dari social media seperti Facebook dan TWITTER wall saya, banyak cerita yang miring sampai "tegak" :)
Nah, pasti kalian sudah banyak yang tahu kan atau sudah jadi pelanggan setianya saat ini?



Hari ini saya nemu cerita dalam status FB salah satu network saya - berikut ceritanya (tanpa saya edit hanya copas saja neeh) -

HANYA SEKEDAR UNTUK MENAMBAH WAWASAN SAJA.
=============================================
Kenapa Tukang Ojek di Gojek bisa Mendapatkan Income Hingga Rp 10 juta per Bulan?
Gojek sejumlah media menulis kisah yang menggugah. Jika tekun menarik order, seorang tukang ojek di Gojek bisa mendapatkan income hingga Rp 10 juta per bulan.Sebuan pencapaian yang sangat mengesankan. Terutama untuk profesi yang selama ini dianggap kelas pinggiran.
Kisah tentang Gojek adalah narasi tentang social innovation, keajaiban teknologi aplikasi, dan kejeniusan ilmu supply chain management.
Mari kita bedah satu demi satu dengan renyah di pagi hari ini.
Sejatinya GOJEK adalah perusahaan penyedia jasa transportasi yang berbasis pada kekuatan magis teknologi aplikasi. The power of Apps.
Salah satu sumber inefisiensi layanan tukang ojek adalah masa ngetem yang terlalu lama. Idle time kalau dalam bahasa supply chain management. Waktu kosong yang hilang sia-sia.
Gojek dengan kekuatan aplikasinya yang real time mampu memotong masa tunggu itu (ngetem untuk dapat order) dengan dramatis. Ribuan calon pelanggan yang telah mendownload aplikasi Gojek yang user friendly – dibuat untuk mudah melakukan pemesanan order pengiriman (entah jasa antar orang, dokumen atau barang).
Lantas ribuan order yang terkumpul itu, di-distribusikan oleh Gojek ke ribuan armadanya, yang berada pada titik paling dekat dengan yang memberi order, secara real time, seketika. Proses ini berlangsung secara kontinyu, real time.
Dengan proses sperti itulah, maka level produktivitas pengojek naik secara sangat signifikan. Dengan kekuatan ajaib aplikasi yang bersifat real time, masa tunggu pengojek bisa ditekan hingga nyaris titik nol.
Apa yang terjadi saat produktivitas naik secara dramatis. Otomatis, income juga bisa melesat ke level yang tak terbayangkan.
Just In Time Inventory. Ini adalah prinsip legendaris perusahan-perusahaan hebat Jepang seperti Toyota. Saat masa tunggu inventory bisa dibuat menjadi zero.
Dan persis prinsip seperti itulah yang diterapkan oleh Gojek dengan kekuatan aplikasinya. Hasilnya adalah keajaiban : seorang tukang ojek bisa mendapat income 10 juta per bulan.
Gojek mungkin contoh keindahan inovasi sosial berbasis teknologi : bagaimana kekuatan aplikasi (digital apps) bisa dimanfaatkan untuk memberdayakan ekonomi kaum kelas pinggiran (tukang ojek).
Ya, niatan untuk mengentaskan kemiskinan memang tidak diperoleh dengan demo, spanduk, rapat di gedung parlemen atau teriak-teriak di jalanan.
Kekuatan sebuah aplikasi yang jenius acap jauh lebih powerful dari itu semua. This is the beauty of digital technology.
Namun inovasi sosial yang jenius dari Gojek ini mendapatkan tantangan dari dua kekuatan. Dan keduanya bisa menghancurkan bisnis Gojek.
Yang pertama adalah resistensi dari para tukang ojek pangkalan. Ini adalah potret muram dari proses inovasi teknologi : bagaimana kekuatan otak (kemudahan teknologi digital ) harus berhadapan dengan kekuatan otot yang enggan menerima proses perubahan zaman.
Dan kita tahu, pertempuran melawan kekuatan otot acap jauh lebih melelahkan dibanding harus bertarung melawan kekuatan otak.
Proses inovasi teknologi memang kadang justru gagal karena masyarakatnya sendiri secara sosiologis tidak siap menerima perubahan. Fenomena yang juga lazim terjadi dalam berbagai kisah perubahan korporat (corporate transformation process).
Status quo dan comfort zone kadang menjadi dua algojo yang acap sukses menjegal potensi kekuatan inovasi.
Kekuatan kedua yang juga bisa merobohkan bisnis Gojek datang dari rival yang tak kalah menggetarkan. Yakni Grab Bike. Perusahaan yang sama dengan Gojek, namun datang dari pengusaha Malaysia. Dan dengan dukungan modal hingga 2.5 triliun.
Dengan dukungan dana nyaris tak terbatas itu, Grab Bike langsung meletuskan amunisi peperangan. Mereka segera meluncurkan “predatory pricing war” : tarif promosi ojek Grab Bike hanya Rp 5 ribu kemana saja (tarif promosi Gojek 10 ribu, dan kini sudah naik ke 15 ribu).
Grab Bike juga memberikan upah ke pengojeknya 90% dari total order, sementara Gojek hanya 80%. Grab Bike juga memberikan program berangkat umroh kepada pengojeknya yang berprestasi (akhirnya tukang ojek juga bisa naik umroh. Bukan hanya tukang bubur).
Perlawanan keras dari Grab Bike itu segera membuat Gojek agak gentar. Pricing war yang berkepanjangan pada akhirnya bisa membuat keduanya malah bangkrut. Bisnis memang kadang brutal dan tak kenal ampun.
Kita tidak tahu apakah Gojek akan bisa mengatasi perlawanan dari dua dimensi yang berbeda itu dengan sukses (resistensi dari ojek pangkalan dan rivalitas bisnis dengan Grab Bike).
Btw, pendiri Gojek sendiri Nadiem Makarim bukan anak muda sembarangan. Pria muda Jakarta ini alumnus Harvard Business School (sekolah bisnis terbaik di muka bumi).
Dengan mudah Nadiem sebenarnya bisa melamar kerja di Wall Street dengan gaji puluhan ribu dollar per bulan. Namun ia memilih pulang ke tanah airnya, demi membangun bisnis yang memberdayakan kaum kelas pinggiran. Melalui kekuatan aplikasi digital.
Jajaran manajemen dan pendiri Gojek lainnya juga diisi oleh para alumnus dari sekolah bisnis hebat seperti University of Chicago. Dan rata-rata pernah bekerja di perusahaan kelas dunia.
Dari sisi kualitas, SDM yang menduduki peran kunci di Gojek sebenarnya setara dengan mutu SDM di perusaahaan top seperti Google, Microsoft ataupun IBM.
Mereka secara kolektif adalah one of the best management brains di tanah air.
Saya sendiri berharap Gojek bisa berhasil dalam misinya. Mereka bertekad untuk merekrut puluhan ribu pengojek baru.
Mungkin Anda berminat juga? Lumayan kan kalau dapat 10 juta per bulan Daripada kerja lembur namun gaji hanya sekelas UMR
Jika bisnis Gojek berhasil, dampak mereka dalam memberdayakan ekonomi kaum kelas pinggiran bisa sangat mengesankan.
Sekali lagi, itulah kekuatan social innovation yang berbasis pada kekuatan teknologi digital.
Welcome to Digital Innovation. Everyone is Invited.
by: MUSLIM ENTREPRENEUR
"Sharing Wirausaha Muslim & Permodalan"
# gambar ambil dari google grin emoticon