Manusia 4 Quadrants

Apakah Quadrant terbaik yang ada di 4 cashflow quadrant Robert T.Kiyosaki? Apakah benar quadrant sebelah kanan selalu lebih baik dari yang disebelah kiri? Apakah semua orang harus jadi businesman? Namun, Nabi Muhammad SAW pun mengajarkan untuk berdagang atau berbisnis.

Be Yourself-Look for your passion

Jadilah diri sendiri, cari the real passion yang kamu punya dan bekerjalah berdasarkan itu maka semuanya akan terasa lebih mudah dan ringan, semua tampak santai untuk dijalani dengan hasil yang sangat berbeda bila kamu terpaksa melakukannya

Online Business

Semakin maju peradaban ini memuat semua transaksi juga mengalami perubahan drastis, apakah anda akan menjadi konsumen atau ingin terlibat langsung dan mendapatkan rezeki dari bidang baru ini?

Tak Ada Waktu Membaca

Buku adalah jendela ilmu dan dunia, bila anda tak punya waktu untuk membaca buku namun ingin mendapatkan kesempatan menambah ilmu maka baca saja ringkasan atau intisarinya, anda tetap mendapatkan informasinya tanpa harus membuang waktu anda.

Olahraga Yuk's

Belajar untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh dengan melakukan exercise yang benar dan mengkonsumsi makanan yang bergizi tentunya

Showing posts with label respect. Show all posts
Showing posts with label respect. Show all posts

#customerServiceBank....Sucks!


Pengalaman setengah harian dealing dengan 4 bank kemaren membuka mata tentang pentingnya peranan customer service atau front liner dalam menentukan apakah perusahaan akan mendapatkan bisnis dari customer atau tidak, dalam skala yang lebih besar bisa membuat perusahaan kehilangan customer and bisnis loh...

pertama, karena mendapat telpon and sms beberapa kali istri saya diharuskan mengganti kartu atm dengan yang baru. perubahan dari magnectic card menjadi card dengan chip harus secepatnya atau sejak 1 october mendatang kartu atm tidak bisa digunakan lagi. Hal ini membuat istri saya kecut dan memutuskan ke bank yang bersangkutan dengan membawa anak kami yang berumur 9 bulan.

sampailah kami di kantor cabang bank yang dimaksud, ternyata kondisi ruang tunggu CS di lantai 2 sudah penuh hanya tersisa 1 sofa kecil untuk duduk bagi kami. Tampak 5 cubicle CS, 1 kosong tidak ada CS nya - 3 sedang melayani nasabah dan 1 sibuk sendiri dengan kertas2 di depannya. 

Tidak ada tanda sudah diantrian no berapa saat itu!

setelah menunggu selama kurang lebih 15 menit - tanpa ada seorang nasabah pun yang di panggil dalam periode itu dan tidak ada satupun yang sudah selesai transaksinya dengan para CS yang ada disana. Istri saya berinisiatif untuk bertanya sudah antrian no berapa kepada salah satu CS - mengingat ruang tunggu yang sudah penuh saat itu.

Dia mendapat jawaban dari salah satu CS and membandingkan dengan no antriannya maka ada sekitar 10 no lagi! bila 15 menit kami menunggu belum ada satu pun transaksi yang selesai maka kami akan mendapatkan giliran - saya asumsikan 1 transaksi akan selesai dalam waktu min 20 menit maka -


20menit x 10 = 200 menit / 4 Cs = 50 menit 
(bila keempat CS bekerja dengan efektif)

jadi, teorinya kami bisa menunggu giliran kurang dari 1 jam.
kenyataannya jauh panggang dari pada asap... si kecil pun mulai rewel.

Hal ini membuat istri saya frustasi dan memutuskan untuk mengambil semua uang yang ada direkening bank tersebut dan memindahkannya ke bank lain. Ditutup pun ndak apa-apa katanya, padahal rekening itu sudah dimilikinya semenjak SMA loh. Dia pun menyisakan sejumlah uang yang sudah tidak bisa lagi diambil.

Bergerak ke bank berikutnya, menunggu 2 nomor antrian dan transaksi 20 menit, dia sudah mendapatkan rekening baru di bank itu. Jadi kehilangan 1 nasabah lah bank pertama - hanya karena kecepatan transaksi yang lambat dan bertele-tele

padahal melihat kantor kedua bank tersebut pasti levelnya sama karena sama-sama memanfaatkan 2 los ruko di tempat yang tidak terlalu jauh.

Kedua, pengalaman berikutnya kami pindah ke bank syariah karena harus transfer ke rekening rekanan kami. Disambut dengan ramah oleh satpam dan dipandu dengan baik oleh Customer service mulai dari pencairan sampai dengan transfer. mungkin karena bank cabang kecil - hanya ada 1 CS dan 1 Teller disana membuat pelayanan terasa lebih pribadi - walau kami bukan customer prime :)

Nah, sambil menunggu saya bergerak ke bank syariah tetangga yang lebih besar karena ingin mencetak buku rekening tabungan. suasana disana sepi karena saya bisa langsung ke teller untuk melakukan pencetakan buku tabungan. Namun, sang teler mengatakan hanya bisa mencetak beberapa baris saja dikarenakan lembara buku tabungan sudah habis. Saya diarahkan ke CS untuk mengganti buku tabungannya.

Saat ini setelah saya mendapatkan no antrian tidak ada nasabah lain di area CS yang mengantri saat itu. Ada 2 counter CS dengan 1 customer - sepertinya internal atau rekan kerja mereka sendiri di salah satu bangku CS, yang satu sibuk entah mengerjakan apa saya tidak jelas - namun kursi di depannya kosong. SAya duduk di seberang mereka dengan mengendong anak saya, mungkin si mbaknya sedang sibuk sekali. Jadi, saya menunggu...

eh, setelah sekitar 15menit menunggu - tanpa ada seorang CS pun yang menanyakan keperluan saya. Si mba CS yang kosong itu berdiri dan memutar name tag di atas mejanya dari yang tadinya menunjukkan namanya menjadi CLOSED!!!

Damned... tanpa babibu menyakanan keperluan saya dan mba yang satu lagi masih asih dengan berkas yang ada dihadapannya. Padahal ada satu orang lagi yang antri dibelakang saya loh...

Saya tanyak koq di tutup dan jawabannya sangat tidak profesional.
akhirnya saya pun dengan suara keras meminta teller untuk mengeprint sisa line printing yang belum dilakukan di kertas lain saja karena yang saya perlukan hanya statement saldo terakhir saya saja! si teller pun tanya kenapa, saya bilang aja CS kalian sedang sibuk banget walau tidak ada customer disana.

Saya pun berencana memindahkan seluruh rekening saya di bank syariah tersebut ke bank syariah tetangganya. walau kecil namun pelayanannya memuaskan menurut saya.

Nah, entah apa yang terjadi dengan para customer service ke 2 bank besar tersebut, namun hari itu mereka sudah kehilangan 1 customer-nya. bagaimana bila terjadi dengan banyak customer? bisa eksodus bukan. 
Kini bank memiliki banyak pilihan dan sebagai customer kita sudah di didik untuk mendapat pelayanan yang  cepat - dengan mesin atm, baik untuk penarikan maupun setoran. 

Pada akhirnya faktor manusia-lah yang menentukan, tingkat persaingan semakin tinggi, teknologi bisa dikejar namun bila kompetensi para manusianya - CS dalam hal ini tidak ditingkatkan maka akan mempengaruhi bisnins kita. Bagi para pejabat bank hal ini perlu dilakukan untuk memberikan added value bagi bank yang bersangkutan. 

Bagi para pekerja - apapun tuntutan pekerjaan maka mulai lah memperbaiki dari diri kita sendir, itu lebih baik daripada selalu menyalahkan sistem yang ada dan berkeluh kesah sesama pegawai dan menjelekan perusahaan kita mencari nafkah untuk keluarga.

KOMPETENSI yang baik bisa dimulai dari masing-masing kita sendiri koq.
itu pelajaran yang bisa saya ambil dari 2 kejadian kemarin itu. setujukah anda? 



OPTIMIS vs SABAR atau OPTIMIS and SABAR …

Apakah anda pernah mendengar cerita tentang Thomas Alfa Edison, yang mengalami kegagalan hingga ribuan kali (ada yang bilang sich sampe 1.300 an kali!!!) namun tetap berusaha menemukan lampu pijar yang kita nikmati sekarang ini.

Pernah dia ditanya oleh seseorang tentang ribuan kali kegagalannya, dia menjawab itu bukanlah KEGAGALAN. Namun, dia menemukan ribuan cara yang salah untuk membuat lampu pijar.

Lalu, dicerita yang lain – bayangkan ...
bila Edison menyerah pada langkah ke 989 maka mungkin kita masih menggunakan obor saat ini sebagai penerangan

wallahualam bi shawab

Cerita ini banyak dibahas oleh motivator untuk menggambarkan dan membakar rasa OPTIMISME kita dalam melakukan sesuatu. Dari sisi lebih religius biasanya untuk menggambarkan tingkat KESABARAN dan Istiqomah terhadap tujuan kita.

Banyak seminar yang saya ikuti dan cerita yang sama berulang, hanya dengan gaya penyampaian yang berbeda saja.

Nah, Hari ini cerita itu berulang kembali. Hanya saja "mentor" saya kali ini adalah jagoan pertamaku, Agaz 5 th. Ceritanya begini :

Sore ini sekitar Jam 4.30an, malam minggu dan cuaca mendung sedari siang tadi, sempat gerimis sedikit malah, jadi suasana sore itu agak sejuklah untuk ukurang pinggiran Timur Jakarta (bukan Jaktim loch…:)


Sekelompok pengamen mengamen di depan rumah, mungkin sekitar 3 orang karena terdengar ada suara gendang, gitar dan “kecrekan” (simbal tapi hand made :) menyanyikan lagu pop yang sedang terkenal. Suaranya lumayan untuk ukuran pengamen – tidak fals lah- mereka bergeser dari sisi kiri pintu garasi ke sisi kanan karena berusaha melihat penghuni di dalamnya.

Karena lumayan juga suaranya, jadi ya saya nikmati saja dengan secangkir coffee mix dan sebatang mild. Namun, belum masuk refrain lagu si Agaz sudah berlari dari dalam rumah, dan belum memakai baju (habis mandi dia :) berlari ke arah pintu pagar ingin memberikan koin kepada para kelompok pengamen itu.

Lagu pun selesai, dan si Agaz berlari sambil teriak2 “ Mah, uangnya dilempar lagi ke aku!” langsung saya datangi si Agaz dan bertanya kenapa? Ternyata dia sedang menggenggam 4 buah koin 500 rupiah, karena susah dia memegangnya, maka dia berniat memberikan satu per satu koin tersebut dari balik pintu pagar besi. Baru memberikan satu koin eh, sudah dilempar ke aku Pah, begitu penjelasan si kecil.

“Memangnya Abang mau kasih semua?” Tanyaku “Iya, pah” sahutnya “hanya aku susah pegangnya, jadi aku kasih satu dulu” penjelasan polos anak kecil itu meluncur dari mulutnya.

Heeem, kalo saja para pengamen itu bersabar sedikit dan tidak langsung emosi merasa terhina -karena susah dibagi 3 kali ya- hanya menerima 1 koin, mungkin mereka akan dapat 4 koin, 2.000 rupiah sudah berapa batang mild tuch, minimal 1 teh botol dech bisa mereka dapat!

Ya… kadang kala ketidaksabaran kita berbuah tidak manis. Mungkin juga rasa bersyukur perlu kita pupuk dalam diri kita masing-masing. Di atas langit masih ada langit katanya? Berarti masih juga banyak orang-orang yang tidak seberuntung kita, bila kita berpikir terbalik.

Jadi, kelompok pengamen itu kurang OPTIMIS atau ndak SABARAN ya…