Manusia 4 Quadrants

Apakah Quadrant terbaik yang ada di 4 cashflow quadrant Robert T.Kiyosaki? Apakah benar quadrant sebelah kanan selalu lebih baik dari yang disebelah kiri? Apakah semua orang harus jadi businesman? Namun, Nabi Muhammad SAW pun mengajarkan untuk berdagang atau berbisnis.

Be Yourself-Look for your passion

Jadilah diri sendiri, cari the real passion yang kamu punya dan bekerjalah berdasarkan itu maka semuanya akan terasa lebih mudah dan ringan, semua tampak santai untuk dijalani dengan hasil yang sangat berbeda bila kamu terpaksa melakukannya

Online Business

Semakin maju peradaban ini memuat semua transaksi juga mengalami perubahan drastis, apakah anda akan menjadi konsumen atau ingin terlibat langsung dan mendapatkan rezeki dari bidang baru ini?

Tak Ada Waktu Membaca

Buku adalah jendela ilmu dan dunia, bila anda tak punya waktu untuk membaca buku namun ingin mendapatkan kesempatan menambah ilmu maka baca saja ringkasan atau intisarinya, anda tetap mendapatkan informasinya tanpa harus membuang waktu anda.

Olahraga Yuk's

Belajar untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh dengan melakukan exercise yang benar dan mengkonsumsi makanan yang bergizi tentunya

Showing posts with label kompetensi-diri. Show all posts
Showing posts with label kompetensi-diri. Show all posts

Ehmm... Resolusi Tahunan menuju 2016

di penghujung bulan ini, saya mulai melihat apa saja yang sudah dilakukan sepanjang tahun ini. Introspeksi diri lah dan juga melihat apa saja pencapaian yang sudah didapat dan apa saja hal yang belom tercapai. 

Dalam teori analisa masalah yang saya tahu :) kita bisa menggunakan apa yang sudah terjadi sebagai LATAR BELAKANG rencana yang akan kita PLANNINGkan untuk tahun berikutnya. Bahkan kita bisa menggunakan matrik SWOT untuk membuat analisanya. (buat yang belum kenal - SWOT: Strength, Weakness, Opportunity and Trait)

Nah, berdasarkan teori inilah saya berencana membuat target tahunan saya untuk 2016, sampai saya membaca artikel di web.www.jamilazzaini.com yang berjudul - TUJUH PERTANYAAN. Artikel ini membuat pemikiran saya menjadi SIMPLE untuk menentukan apa yang hendak saya capai di tahun 2016 -


Pertama, apa tujuan baru yang Anda wujudkan?
Kedua, apa langkah baru yang Anda ambil?
Ketiga, apa gagasan baru yang Anda usung?
Keempat, siapa orang baru yang Anda temui?
Kelima, apa panggung baru yang Anda hadiri?
Keenam, apa manfaat baru yang Anda tebar?
Ketujuh, apa ibadah baru yang Anda rutinkan?

Menurut mas @JamilAzzaini (sok akrab bleh...) beliau terinspirasi oleh Gustav Freytag (13 Juli 1816 – 30 April 1895, novelis dan dramawan, lahir di Polandia dan meninggal di Jerman). saya malah terinprirasi dengan tulisan beliau :D

Ke-7 pertanyaan itu benar-benar membuat saya berpikir dan puss!!! berasap dan terbanglah segala teori SWOT yang tadinya akan saya buat. karena ada kata kunci lain dalam tulisan itu yang benar-benar mak jleb! ... BEKOMITMEN MELAKUKANNYA setelah menjawab ke-7 pertanyaan itu.

persis dengan temuan saya di awal tahun ini, PERSISTENT itu masalah nya, terjemahan kata itu dalam bahasa gaulnya adalah janganlah melakukan sesuatu itu dengan metoda HOT-HOT CHICKEN SHIT - alias hanyat-hanyat tai ayam (maaf)

OK, mari kita jawab pertanyaan itu dan berkomitmen untuk melakukannya. Saya mau pikir untuk menjawabnya ach, apa saja rencana untuk tahun depan.

ssttt! kalo jawaban berdasarkan apa yang tejadi tahun ini maka cuman dapet penten (nilai) 2 kurang. Whalahdalah....

#customerServiceBank....Sucks!


Pengalaman setengah harian dealing dengan 4 bank kemaren membuka mata tentang pentingnya peranan customer service atau front liner dalam menentukan apakah perusahaan akan mendapatkan bisnis dari customer atau tidak, dalam skala yang lebih besar bisa membuat perusahaan kehilangan customer and bisnis loh...

pertama, karena mendapat telpon and sms beberapa kali istri saya diharuskan mengganti kartu atm dengan yang baru. perubahan dari magnectic card menjadi card dengan chip harus secepatnya atau sejak 1 october mendatang kartu atm tidak bisa digunakan lagi. Hal ini membuat istri saya kecut dan memutuskan ke bank yang bersangkutan dengan membawa anak kami yang berumur 9 bulan.

sampailah kami di kantor cabang bank yang dimaksud, ternyata kondisi ruang tunggu CS di lantai 2 sudah penuh hanya tersisa 1 sofa kecil untuk duduk bagi kami. Tampak 5 cubicle CS, 1 kosong tidak ada CS nya - 3 sedang melayani nasabah dan 1 sibuk sendiri dengan kertas2 di depannya. 

Tidak ada tanda sudah diantrian no berapa saat itu!

setelah menunggu selama kurang lebih 15 menit - tanpa ada seorang nasabah pun yang di panggil dalam periode itu dan tidak ada satupun yang sudah selesai transaksinya dengan para CS yang ada disana. Istri saya berinisiatif untuk bertanya sudah antrian no berapa kepada salah satu CS - mengingat ruang tunggu yang sudah penuh saat itu.

Dia mendapat jawaban dari salah satu CS and membandingkan dengan no antriannya maka ada sekitar 10 no lagi! bila 15 menit kami menunggu belum ada satu pun transaksi yang selesai maka kami akan mendapatkan giliran - saya asumsikan 1 transaksi akan selesai dalam waktu min 20 menit maka -


20menit x 10 = 200 menit / 4 Cs = 50 menit 
(bila keempat CS bekerja dengan efektif)

jadi, teorinya kami bisa menunggu giliran kurang dari 1 jam.
kenyataannya jauh panggang dari pada asap... si kecil pun mulai rewel.

Hal ini membuat istri saya frustasi dan memutuskan untuk mengambil semua uang yang ada direkening bank tersebut dan memindahkannya ke bank lain. Ditutup pun ndak apa-apa katanya, padahal rekening itu sudah dimilikinya semenjak SMA loh. Dia pun menyisakan sejumlah uang yang sudah tidak bisa lagi diambil.

Bergerak ke bank berikutnya, menunggu 2 nomor antrian dan transaksi 20 menit, dia sudah mendapatkan rekening baru di bank itu. Jadi kehilangan 1 nasabah lah bank pertama - hanya karena kecepatan transaksi yang lambat dan bertele-tele

padahal melihat kantor kedua bank tersebut pasti levelnya sama karena sama-sama memanfaatkan 2 los ruko di tempat yang tidak terlalu jauh.

Kedua, pengalaman berikutnya kami pindah ke bank syariah karena harus transfer ke rekening rekanan kami. Disambut dengan ramah oleh satpam dan dipandu dengan baik oleh Customer service mulai dari pencairan sampai dengan transfer. mungkin karena bank cabang kecil - hanya ada 1 CS dan 1 Teller disana membuat pelayanan terasa lebih pribadi - walau kami bukan customer prime :)

Nah, sambil menunggu saya bergerak ke bank syariah tetangga yang lebih besar karena ingin mencetak buku rekening tabungan. suasana disana sepi karena saya bisa langsung ke teller untuk melakukan pencetakan buku tabungan. Namun, sang teler mengatakan hanya bisa mencetak beberapa baris saja dikarenakan lembara buku tabungan sudah habis. Saya diarahkan ke CS untuk mengganti buku tabungannya.

Saat ini setelah saya mendapatkan no antrian tidak ada nasabah lain di area CS yang mengantri saat itu. Ada 2 counter CS dengan 1 customer - sepertinya internal atau rekan kerja mereka sendiri di salah satu bangku CS, yang satu sibuk entah mengerjakan apa saya tidak jelas - namun kursi di depannya kosong. SAya duduk di seberang mereka dengan mengendong anak saya, mungkin si mbaknya sedang sibuk sekali. Jadi, saya menunggu...

eh, setelah sekitar 15menit menunggu - tanpa ada seorang CS pun yang menanyakan keperluan saya. Si mba CS yang kosong itu berdiri dan memutar name tag di atas mejanya dari yang tadinya menunjukkan namanya menjadi CLOSED!!!

Damned... tanpa babibu menyakanan keperluan saya dan mba yang satu lagi masih asih dengan berkas yang ada dihadapannya. Padahal ada satu orang lagi yang antri dibelakang saya loh...

Saya tanyak koq di tutup dan jawabannya sangat tidak profesional.
akhirnya saya pun dengan suara keras meminta teller untuk mengeprint sisa line printing yang belum dilakukan di kertas lain saja karena yang saya perlukan hanya statement saldo terakhir saya saja! si teller pun tanya kenapa, saya bilang aja CS kalian sedang sibuk banget walau tidak ada customer disana.

Saya pun berencana memindahkan seluruh rekening saya di bank syariah tersebut ke bank syariah tetangganya. walau kecil namun pelayanannya memuaskan menurut saya.

Nah, entah apa yang terjadi dengan para customer service ke 2 bank besar tersebut, namun hari itu mereka sudah kehilangan 1 customer-nya. bagaimana bila terjadi dengan banyak customer? bisa eksodus bukan. 
Kini bank memiliki banyak pilihan dan sebagai customer kita sudah di didik untuk mendapat pelayanan yang  cepat - dengan mesin atm, baik untuk penarikan maupun setoran. 

Pada akhirnya faktor manusia-lah yang menentukan, tingkat persaingan semakin tinggi, teknologi bisa dikejar namun bila kompetensi para manusianya - CS dalam hal ini tidak ditingkatkan maka akan mempengaruhi bisnins kita. Bagi para pejabat bank hal ini perlu dilakukan untuk memberikan added value bagi bank yang bersangkutan. 

Bagi para pekerja - apapun tuntutan pekerjaan maka mulai lah memperbaiki dari diri kita sendir, itu lebih baik daripada selalu menyalahkan sistem yang ada dan berkeluh kesah sesama pegawai dan menjelekan perusahaan kita mencari nafkah untuk keluarga.

KOMPETENSI yang baik bisa dimulai dari masing-masing kita sendiri koq.
itu pelajaran yang bisa saya ambil dari 2 kejadian kemarin itu. setujukah anda? 



Review 2014 - PERSISTENT adalah masalahnya

Akhir tahun lalu saat di rumah sakit menunggu yang baru lahiran, iseng aku coba melihat pencapaian di tahun 2014 berdasarkan apa yang aku tulis sebagai resolusi untuk tahun kemaren. Ada yang tercapai sesuai dengan target yang ditetapkan, namun ternyata banyak yang tidak sesuai dengan rencana dan keinginan ku sendiri. 
Setelah di pikir-pikir apa saja penyebabnya maka ada satu kata yang tampaknya berulang dari hasil review itu sendiri yaitu - PERSISTENT.

sering dengar namun apa sebenarnya persistent ini, berikut kata oom google dari hasil browsingan:


 

terjemahan bebasnya untuk point
  1. terus tetap tegas dan keras kepala (kekeuh -sunda); ngeyel dalam suatu tindakan meskipun mengalami kesulitan ataupun perlawanan
  2. terus ada atau bertahan untuk jangka waktu yang lama
sementara dalam terjemahan bahasa indonesianya adalah - gigih, keras hati, berkanjang (ini apa ya artinya?), teguh, ulat (?) dan tetap.

Nah, ternyata dengan melihat arti dari oom google ini membuat aku makin yakin bahwasanya memang kurang PERSISTENT dari aku sendiri yang membuat beberapa resolusi tahun lalu tidah berhasil aku raih, dapatkan, dan tidak kejadian seperti yang aku inginkan.
 

Goal sudah dibuat, rencana action sudah dirancang namun... kegigihan (masih dipertanyakan), ini yang tenyata tidak gampang untuk dilakukan pada diriku. 1002 alasan bisa saja kubuat dan tidak melakukan perlawanan untuk tidak melakukan apa yang sudah dipikir atau bahkan direncanakan. MErubah kebiasaan, apalagi mindset adalah challenge yang lain yang musti di hadapi.
Tidak gampang ternyata untuk keluar dari zona nyaman kita dan beradaptasi dengan perubahan itu sendiri, walau kita tahu perubahan yang kita lakukan pada dasarnya adalah pondasi untuk membangun zona nyaman berikutnya yang pastinya akan lebih dan lebih dari zona nyaman kita saat ini.

Jadi, dari semua resolusi 2015 - diatas semua resolusi yang telah dibuat maka kata PERSISTENT haruslah mendapatkan porsi khusus untuk memenuhinya.

Let's go persistent and consistent.
What is the difference?



OPTIMIS vs SABAR atau OPTIMIS and SABAR …

Apakah anda pernah mendengar cerita tentang Thomas Alfa Edison, yang mengalami kegagalan hingga ribuan kali (ada yang bilang sich sampe 1.300 an kali!!!) namun tetap berusaha menemukan lampu pijar yang kita nikmati sekarang ini.

Pernah dia ditanya oleh seseorang tentang ribuan kali kegagalannya, dia menjawab itu bukanlah KEGAGALAN. Namun, dia menemukan ribuan cara yang salah untuk membuat lampu pijar.

Lalu, dicerita yang lain – bayangkan ...
bila Edison menyerah pada langkah ke 989 maka mungkin kita masih menggunakan obor saat ini sebagai penerangan

wallahualam bi shawab

Cerita ini banyak dibahas oleh motivator untuk menggambarkan dan membakar rasa OPTIMISME kita dalam melakukan sesuatu. Dari sisi lebih religius biasanya untuk menggambarkan tingkat KESABARAN dan Istiqomah terhadap tujuan kita.

Banyak seminar yang saya ikuti dan cerita yang sama berulang, hanya dengan gaya penyampaian yang berbeda saja.

Nah, Hari ini cerita itu berulang kembali. Hanya saja "mentor" saya kali ini adalah jagoan pertamaku, Agaz 5 th. Ceritanya begini :

Sore ini sekitar Jam 4.30an, malam minggu dan cuaca mendung sedari siang tadi, sempat gerimis sedikit malah, jadi suasana sore itu agak sejuklah untuk ukurang pinggiran Timur Jakarta (bukan Jaktim loch…:)


Sekelompok pengamen mengamen di depan rumah, mungkin sekitar 3 orang karena terdengar ada suara gendang, gitar dan “kecrekan” (simbal tapi hand made :) menyanyikan lagu pop yang sedang terkenal. Suaranya lumayan untuk ukuran pengamen – tidak fals lah- mereka bergeser dari sisi kiri pintu garasi ke sisi kanan karena berusaha melihat penghuni di dalamnya.

Karena lumayan juga suaranya, jadi ya saya nikmati saja dengan secangkir coffee mix dan sebatang mild. Namun, belum masuk refrain lagu si Agaz sudah berlari dari dalam rumah, dan belum memakai baju (habis mandi dia :) berlari ke arah pintu pagar ingin memberikan koin kepada para kelompok pengamen itu.

Lagu pun selesai, dan si Agaz berlari sambil teriak2 “ Mah, uangnya dilempar lagi ke aku!” langsung saya datangi si Agaz dan bertanya kenapa? Ternyata dia sedang menggenggam 4 buah koin 500 rupiah, karena susah dia memegangnya, maka dia berniat memberikan satu per satu koin tersebut dari balik pintu pagar besi. Baru memberikan satu koin eh, sudah dilempar ke aku Pah, begitu penjelasan si kecil.

“Memangnya Abang mau kasih semua?” Tanyaku “Iya, pah” sahutnya “hanya aku susah pegangnya, jadi aku kasih satu dulu” penjelasan polos anak kecil itu meluncur dari mulutnya.

Heeem, kalo saja para pengamen itu bersabar sedikit dan tidak langsung emosi merasa terhina -karena susah dibagi 3 kali ya- hanya menerima 1 koin, mungkin mereka akan dapat 4 koin, 2.000 rupiah sudah berapa batang mild tuch, minimal 1 teh botol dech bisa mereka dapat!

Ya… kadang kala ketidaksabaran kita berbuah tidak manis. Mungkin juga rasa bersyukur perlu kita pupuk dalam diri kita masing-masing. Di atas langit masih ada langit katanya? Berarti masih juga banyak orang-orang yang tidak seberuntung kita, bila kita berpikir terbalik.

Jadi, kelompok pengamen itu kurang OPTIMIS atau ndak SABARAN ya…



FOCUS... FOCUS.... FOCUS...

Kata yang paling sering di dengar baik dari para motivator atau pun pebisnis dalam percakapan sehari-hari. Namun, sebenarnya apakah focus itu? Apakah kuda yang menarik delman atau andong dengan kaca mata kudanya disebut focus? Mengarah pada satu tujuan dan tidak menggubris apa yang terjadi disekitarnya itu juga disebut focus?
Ya… mungkin itu semua benar.
Minggu lalu saya menemani salah seorang rekan sejawat yang sedang memotivasi team salesnya, dan dia mempunyai cerita pewayangan tentang focus ini. Pada “jaman” itu Resi Durna terkenal sebagai pemanah yang terulung pada jamannya, tidak ada sasaran yang meleset bila dia membidiknya. Singkat cerita, setelah menjadi Resi dia menurunkan ilmunya pada 2 wangsa besar saat itu Kurawa dan Pandawa.
Setelah melatih ke 2 wangsa itu untuk beberapa waktu tentang teknik memanah maka tibalah saatnya sang Resi menguji murid-muridnya tersebut. Dipanggillah sang Dursasana , lalu diajukan pertanyaan :
“Wahai muridku apa yang kamu lihat di atas pohon itu?” Tanya sang Resi
“hua..ha..ha…” tawa keras sang Dursasana “Aku melihat pohon yang indah dengan daun-daun yang hijau rimbun dilatar belakangi oleh indahnya langit biru” jawaab si murid
“Baik lah kalo begitu, tarik busur panahmu dan lepaskan ke arah sasaranmu” lanjut sang Resi. Lalu Dursasana pun melepaskan anak panahnya. Namun, tak satu pun sasaran yang terkena. Tawa para Kurawa dan Pandawa membahana mengejek sang Dursasana, hal ini membuatnya emosi dan mengambil anak panah berikutnya.
Dia lepaskan anak panah ini dan tetap tidak mengenai sasaran, dia ulangi lagi hingga 5 kali namun tetap tidak ada yang mengenai sasaran.
“Sasaran apa yang kamu tuju wahai muridku?” Tanya sang Resi. Seraya bersungut Dursasana menjawab “Buah Apel! Bapa Guru”
“Ohh…” gumam sang Resi
“Arjuna, sekarang giliranmu” panggil sang Resi pada murid berikutnya.
“Apa yang kamu lihat di atas sana”
“Apel” jawab sang Arjuna, “Lalu apa lagi yang kau lihat?” lanjut sang resi
“Apel” jawab sang Arjuna, “Kamu melihat birunya langit diatas sana?”
“Tidak, aku hanya melihat Apel” jawab Arjuna
Dan Anda pasti sudah menebak, apakah Arjuna mengenai sasaran atau tidak?
Sasarannya sudah jelas: APEL dan dia tidak melihat yang lainnya karena dia memusatkan seluruh pikiran dan hasratnya pada apel yang dijadikan target sasarannya. Inilah focus.
Tahapan yang paling menantang dalam melakukan focus terhadap sesuatu adalah konsistensinya. Artinya, kita tetap tidak melihat atau bergeming atau pun tertarik melakukan hal lain yang menyebabkan kita melupakan tujuan awal yang harusnya menjadi focus kita.
Dalam buku I Want You to Be Rich karangan bersama Kiyosaki dan Donald Trump, ada akronim yang menarik tentang masalah focus ini, yaitu :
F = Follow (ikuti)
O = One (satu)
C = Course (tujuan)
U = Until (hingga)
S = Success (sukses)


Bagaimana denan focus anda hari ini?

Peluang Berbasis Kompetensi yang DIMILIKI

Berikut adalah tulisan yang dibuat oleh Bapak Rhenald Kasali yang menurut saya memberikan inspirasi tentang apa itu KOMPETENSI yang bisa di "explore" dalam diri kita atau yang kita miliki saat ini. 


Silahkan di lanjut...

Tidak banyak perusahaan, bahkan yang besar sekalipun dapat tumbuh dengan menciptakan pasar baru setelah pasar yang lama mengalami decline. 

Japan Airlines (JAL) atau Swiss Air adalah contoh perusahaan besar dengan pengalaman puluhan tahun pada industri penerbangan yang menemui kegagalan saat berusaha memacu pertumbuhan bisnisnya. Melakukan ekpansi untuk mengejar atau paling tidak mempertahankan eksistensi perusahaan memang krusial terutama bagi perusahaan-perusahaan besar yang pergerakannya mulai melambat. 

Dalam konteks ini mungkin kita harus pula belajar dari pengalaman Barings Bank atau Enron yang justru kolaps akibat kesalahan merumuskan strategi pertumbuhan mereka.

Bagi perusahaan kecil sekelas UKM gerakan mereka jelas lebih fleksibel dalam merespon setiap peluang, termasuk menciptakan pasar bagi pertumbuhannya. Mereka lebih lincah mengamati kebutuhan pasar, jadi tidak heran mereka bisa bertahan di tengah terpaan krisis berkepanjangan. Banyak contoh wirausahawan kelas UKM yang saya tampillkan sebagai tamu saya dalam acara "Bedah Bisnis" di TPI. Mereka sangat jeli memanfaatkan kebutuhan pasar sehingga dapat meraih pertumbuhan bagi usahanya. 
Sebut saja Pak Hidayat pemilik Perusahaan Mittran berhasil menciptakan pasar, justru pada bidang sampah yang diabaikan banyak orang. Demikian pula Andry Yunaswin yang pernah menjadi tamu saya yang berhasil memanfaatkan aki (accu) rongsokan sebagai lahan bisnis yang sangat prospektif. Satu hal yang mungkin dapat disimpulkan dari pengalaman para UKM ini adalah mereka sangat menguasai bisnis yang digelutinya.

Pak Andri yang saat ini menjadi mitra PT Telkom dalam mengembangkan usaha, sebelumnya hanya seorang distributor aki ke daerah-daerah yang belum memiliki fasilitas listrik. Aki ini dimanfaatkan sebagai generator bagi banyak keperluan terutama sebagai power TV. Namun seiring dengan jaringan listrik yang mulai menjangkau seluruh daerah, pasar menjadi jenuh. Aki pun menjadi barang rongsokan yang kurang termanfaatkan. Pasar yang decline, bahkan sudah mati tidak membuat Pak Andri kehilangan akal. Berbekal penguasaan komponen aki ini dia justru menemukan peluang baru dalam memulai bisnisnya, yaitu bisnis alat pancing atau yang berhubungan dengan alat ”kail-mengkail” ikan yang terbuat dari timah asli. Aki bekas pun mulai dikumpulkan melalui jaringan yang ada, termasuk bengkel dan para pemulung. Kali ini pasar barunya adalah para nelayan dan mereka yang hobi memancing baik dalam maupun di luar negeri.

Produknya yang dibuat secara manual menjadi salah satu keunikan yang sangat digemari konsumennya. "Di dalam negeri, Palembang salah satu pasar utama kami, kawasan ini memiliki banyak rawa dan sungai yang kaya ikan. Sedangkan di luar negeri kami mengekspornya ke beberapa negara seperti Amerika, Jepang, Paraguay, Malaysia serta Singapura" Demikian penjelasannya saat diwawancarai. Apa yang diperoleh Andri saat ini tentu saja patut diapresiasi sebab tidak sedikit wirausahawan kita yang ikut "mati" seiring dengan hilangnya pasar yang selama ini dilayaninya. Banyak di antara mereka bangkrut karena gagal melakukan respon terhadap pasar yang cepat berubah.

Menemukan relasi antara bisnis yang digeluti dengan permintaan yang terus berubah, sama sulitnya dengan menggeluti bisnis baru yang berbeda dengan kompetensi kita. Dalam sebuah buku yang berjudul "Beyond The Core", Chris Zook mengemukakan bahwa dalam mengembangkan pasar dan memanfaatkan peluang yang ada, sebuah perusahaan hendaknya memperhatikan kompetensi yang dimilikinya. Hal ini dimaksudkan agar perusahaan tidak tersesat dalam belantara persaingan yang tidak diketahui di mana perusahaan memiliki informasi yang sangat minim. Dalam buku tersebut digambarkan bahwa semakin jauh perusahaan dari kompetensinya maka peluang sukses pun semakin kecil. Agar kemungkinan sukses bisa lebih besar hendaknya perusahaan melakukan ekspansi yang sesuai kompetensinya.

Untuk itu perusahaan harus melakukan apa yang disebut Zook sebagai "adjacency moves" yaitu perluasan bisnis dilakukan pada aktivitas yang berbeda namun tetap berhubungan dengan kompetensi perusahaan. Jika ini bisa dilakukan maka peluang sukses bisa mencapai 37%. Demikian temuan Zook berdasarkan informasi dari para CEO yang di-interview-nya. Apa yang digambarkan di atas adalah fakta bahwa banyak perusahaan mengalami kesulitan mengembangkan bisnisnya. Yang berhasil adalah mereka yang bisa mengidentifikasi dengan benar kompetensinya—CK Prahalad menyebutnya sebagai core competence.

Selain itu perusahaan juga harus bisa membuat prediksi antara investasi yang dilakukan dengan potensial ’return’ yang dihasilkan. Dengan begitu perusahaan siap menanggung risiko apapun yang akan dihadapi. Dengan demikian sudah seharusnya para pemimpin perusahaan bisa menentukan kapan dan seperti apa pengembangan usaha dilakukan, mana peluang bisnis yang direspon dan mana yang tidak. Perusahaan juga diajak realistis menilai kemampuannya termasuk daya dukung organisasi jika menggeluti bisnis yang dinilai potensial. Selanjutnya banyak hal lagi yang perlu dipertimbangkan seiring besarnya skala perusahaan.

Membandingkan perusahaan skala besar dengan usaha sekelas UKM jelas berbeda, tapi di situlah letak persoalannya. Usaha sekelas UKM yang lebih simpel dengan mudah beralih ke usaha potensil lain, mereka tidak perlu berfikir secara panjang lebar dalam menimbang berbagai hal. Pak Andri memang risau saat berhadapan dengan kenyataan bahwa pasar aki sebagai pengganti lsitrik telah hilang, namun dengan sedikit kejeliannya ia dapat menemukan bisnis dengan potensi yang lebih besar. Dan yang lebih penting lagi bisnis tersebut sesuai dengan kompetensi yang digeluti sebelumnya. 

Jadi sungguh luar biasa mereka yang dapat menciptakan pasar baru bagi pertumbuhan perusahaannya tanpa harus beralih pada bisnis yang sama sekali berbeda dengan kompetensi sebelumnya. Dengan begitu mereka bisa efisien, sebab investasi dan kurva belajar yang panjang dapat diminimalisir dan ancaman kebangkrutan seperti dialami banyak perusahaan pun terhindarkan. (Rhenald Khasali)