Manusia 4 Quadrants

Apakah Quadrant terbaik yang ada di 4 cashflow quadrant Robert T.Kiyosaki? Apakah benar quadrant sebelah kanan selalu lebih baik dari yang disebelah kiri? Apakah semua orang harus jadi businesman? Namun, Nabi Muhammad SAW pun mengajarkan untuk berdagang atau berbisnis.

Be Yourself-Look for your passion

Jadilah diri sendiri, cari the real passion yang kamu punya dan bekerjalah berdasarkan itu maka semuanya akan terasa lebih mudah dan ringan, semua tampak santai untuk dijalani dengan hasil yang sangat berbeda bila kamu terpaksa melakukannya

Online Business

Semakin maju peradaban ini memuat semua transaksi juga mengalami perubahan drastis, apakah anda akan menjadi konsumen atau ingin terlibat langsung dan mendapatkan rezeki dari bidang baru ini?

Tak Ada Waktu Membaca

Buku adalah jendela ilmu dan dunia, bila anda tak punya waktu untuk membaca buku namun ingin mendapatkan kesempatan menambah ilmu maka baca saja ringkasan atau intisarinya, anda tetap mendapatkan informasinya tanpa harus membuang waktu anda.

Olahraga Yuk's

Belajar untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh dengan melakukan exercise yang benar dan mengkonsumsi makanan yang bergizi tentunya

Showing posts with label karyawan. Show all posts
Showing posts with label karyawan. Show all posts

Ada FOCUS, ada MILESTONE, ada apalagi ya?

Pernah ngga baca atau mungkin mendengar rekan atau bos kita bilang tentang "Kerja harus FOCUS jangan terganggu dengan hal lain itu DISTRACTION" atau dilain waktu, ada motivator yang berkata "buat hal yang akan menjadi MILESTONE dari tujuan anda" 

Nah, saya termasuk salah seorang yang sering sekali mendengar 2 kata "ajaib" tersebut dan kadang kala (kalau tidak mau dibilang sering kali, biar kelihatan keren lah... LOL) menggunakannya juga saat sedang berapi-api menjelaskan sesuatu kepada yang lain, terutama para pemula di kantor :)

Sebenarnya apa sich maksud dari 2 kata ini dalam penerapannya sehari-hari, apakah kita sudah benar cara menggunakan kedua kata ini? 

Bila kita tilik dari mba google translate berikut adalah terjemahan dan pengertiannya -


Apa hubungan kedua kata tersebut dengan GOAL?
*ntar dulu lah satu-satu napah

Terjemahan yang saya gunakan adalah - FOCUS: perhatian yang harus kita berikan lebih pada satu hal tertentu dibandingkan dengan hal lainnya, tanpa harus terganggu oleh hal lainnya.  Ada yang mendefinisikannya sebagai Folow One Course Untill Success - F.O.C.U.S Dalam kegiatan management sehari-hari, hal ini dapat berupa sesuatu hal atau benda yang ingin kita capai atau dapatkan.

Sedangkan MILESTONE saya lebih memaknainya sebagai suatu hal yang terjadi secara significant membuat perbedaan atau mengakibatkan perubahan ke arah yang baik dalam process itu sendiri. Dengan kata lain ini adalah tandanya atau titik dimana kita buat sebagai tanda pengingatnya.

Malam tadi saya mendapat pencerahan baru tentang pengertian kedua kata tersebut dari permaian Jelly Blast di gadget android saya - sampai level tertentu tantangan menjadi semakin sulit dan untuk memenangkan pertandingan maka juga semakin sulit. Saat semakin ingin memenangkan level tersebut maka semakin sering saya kalah dan harus mengulang dari awal lagi di level itu. RETRY! bah! nyebelin kaleee...

Pengen menang malah terus kalah, padahal harus FOCUS nich ngalahin score si mbarep :) (judulnya mah ndak mau kalah sama junior). Sudah muley pake napsu juga maennya nich :(

tapi saat dapat lima baris dan "blasting" semua jelly maka score yang saya dapat juga jadi tinggi sekali. 2 kali dapat lima baris selesai sudah tantangan di level itu. 
Saat saya ulang dan mulai sedikit merubah 'focus' mencari lima baris dan beberapa 'blasting' yang lain maka frekuensi kemenangan jadi semakin meningkat nich. Wow kerenz...
Ehm... saat saya fokus pada kemenangan dan kalah, napsu dan frustasi yang saya dapat. Namun, saat fokus di permudah dengan mencari 'blasting' kemenangan malah makin sering didapat. 

Insight yang saya dapat ternyata - kita harus FOKUS pada sesuatu yang besar sebagai GOAL kita, dalam permainan ini adalah menang di semua level. Itu adalah kemenangan besar yang kadang juga memberikan PRESSURE kepada kita sendiri. 
Tapi bila FOKUS itu diperkecil sedikit menjadi mencari 'blasting' yang secara teknis lebih mudah maka rasanya koq makin lancar ya...? kemenangan ini menjadi MILESTONE untuk permainan selanjutnya, carilah baris yang makin panjang untuk menciptakan 'blasting' yang lebih besar lagi dan akhirnya kemenangan di level itu bisa di raih.

Jadi, menurut saya hubungan FOCUS dengan MILESTONE adalah - 
tetapkan GOAL utama kita, FOCUS pada pencapainnya, bagi kedalam GOAL yang lebih kecil (biasanya lebih mudah dicapai) FOCUS disana, saat kita berhasil maka ini akan menjadi MILESTONE kita untuk meningkatkan level CONFIDENCE kita untuk mendapatkatkan GOAL utama yang diinginkan.

Milestone adalah pencapaian dari goal kecil yang menjadi focus jangka pendek kita dalam meraih goal utama.

Let's do it, makan nasi goreng kambing cikini 1 porsi aja harus dimakan sendok by sendok, walau pun lezat kan ndak semua nasi goreng sekaligus dimasukkan ke dalam mulut kita tokh :)



#customerServiceBank....Sucks!


Pengalaman setengah harian dealing dengan 4 bank kemaren membuka mata tentang pentingnya peranan customer service atau front liner dalam menentukan apakah perusahaan akan mendapatkan bisnis dari customer atau tidak, dalam skala yang lebih besar bisa membuat perusahaan kehilangan customer and bisnis loh...

pertama, karena mendapat telpon and sms beberapa kali istri saya diharuskan mengganti kartu atm dengan yang baru. perubahan dari magnectic card menjadi card dengan chip harus secepatnya atau sejak 1 october mendatang kartu atm tidak bisa digunakan lagi. Hal ini membuat istri saya kecut dan memutuskan ke bank yang bersangkutan dengan membawa anak kami yang berumur 9 bulan.

sampailah kami di kantor cabang bank yang dimaksud, ternyata kondisi ruang tunggu CS di lantai 2 sudah penuh hanya tersisa 1 sofa kecil untuk duduk bagi kami. Tampak 5 cubicle CS, 1 kosong tidak ada CS nya - 3 sedang melayani nasabah dan 1 sibuk sendiri dengan kertas2 di depannya. 

Tidak ada tanda sudah diantrian no berapa saat itu!

setelah menunggu selama kurang lebih 15 menit - tanpa ada seorang nasabah pun yang di panggil dalam periode itu dan tidak ada satupun yang sudah selesai transaksinya dengan para CS yang ada disana. Istri saya berinisiatif untuk bertanya sudah antrian no berapa kepada salah satu CS - mengingat ruang tunggu yang sudah penuh saat itu.

Dia mendapat jawaban dari salah satu CS and membandingkan dengan no antriannya maka ada sekitar 10 no lagi! bila 15 menit kami menunggu belum ada satu pun transaksi yang selesai maka kami akan mendapatkan giliran - saya asumsikan 1 transaksi akan selesai dalam waktu min 20 menit maka -


20menit x 10 = 200 menit / 4 Cs = 50 menit 
(bila keempat CS bekerja dengan efektif)

jadi, teorinya kami bisa menunggu giliran kurang dari 1 jam.
kenyataannya jauh panggang dari pada asap... si kecil pun mulai rewel.

Hal ini membuat istri saya frustasi dan memutuskan untuk mengambil semua uang yang ada direkening bank tersebut dan memindahkannya ke bank lain. Ditutup pun ndak apa-apa katanya, padahal rekening itu sudah dimilikinya semenjak SMA loh. Dia pun menyisakan sejumlah uang yang sudah tidak bisa lagi diambil.

Bergerak ke bank berikutnya, menunggu 2 nomor antrian dan transaksi 20 menit, dia sudah mendapatkan rekening baru di bank itu. Jadi kehilangan 1 nasabah lah bank pertama - hanya karena kecepatan transaksi yang lambat dan bertele-tele

padahal melihat kantor kedua bank tersebut pasti levelnya sama karena sama-sama memanfaatkan 2 los ruko di tempat yang tidak terlalu jauh.

Kedua, pengalaman berikutnya kami pindah ke bank syariah karena harus transfer ke rekening rekanan kami. Disambut dengan ramah oleh satpam dan dipandu dengan baik oleh Customer service mulai dari pencairan sampai dengan transfer. mungkin karena bank cabang kecil - hanya ada 1 CS dan 1 Teller disana membuat pelayanan terasa lebih pribadi - walau kami bukan customer prime :)

Nah, sambil menunggu saya bergerak ke bank syariah tetangga yang lebih besar karena ingin mencetak buku rekening tabungan. suasana disana sepi karena saya bisa langsung ke teller untuk melakukan pencetakan buku tabungan. Namun, sang teler mengatakan hanya bisa mencetak beberapa baris saja dikarenakan lembara buku tabungan sudah habis. Saya diarahkan ke CS untuk mengganti buku tabungannya.

Saat ini setelah saya mendapatkan no antrian tidak ada nasabah lain di area CS yang mengantri saat itu. Ada 2 counter CS dengan 1 customer - sepertinya internal atau rekan kerja mereka sendiri di salah satu bangku CS, yang satu sibuk entah mengerjakan apa saya tidak jelas - namun kursi di depannya kosong. SAya duduk di seberang mereka dengan mengendong anak saya, mungkin si mbaknya sedang sibuk sekali. Jadi, saya menunggu...

eh, setelah sekitar 15menit menunggu - tanpa ada seorang CS pun yang menanyakan keperluan saya. Si mba CS yang kosong itu berdiri dan memutar name tag di atas mejanya dari yang tadinya menunjukkan namanya menjadi CLOSED!!!

Damned... tanpa babibu menyakanan keperluan saya dan mba yang satu lagi masih asih dengan berkas yang ada dihadapannya. Padahal ada satu orang lagi yang antri dibelakang saya loh...

Saya tanyak koq di tutup dan jawabannya sangat tidak profesional.
akhirnya saya pun dengan suara keras meminta teller untuk mengeprint sisa line printing yang belum dilakukan di kertas lain saja karena yang saya perlukan hanya statement saldo terakhir saya saja! si teller pun tanya kenapa, saya bilang aja CS kalian sedang sibuk banget walau tidak ada customer disana.

Saya pun berencana memindahkan seluruh rekening saya di bank syariah tersebut ke bank syariah tetangganya. walau kecil namun pelayanannya memuaskan menurut saya.

Nah, entah apa yang terjadi dengan para customer service ke 2 bank besar tersebut, namun hari itu mereka sudah kehilangan 1 customer-nya. bagaimana bila terjadi dengan banyak customer? bisa eksodus bukan. 
Kini bank memiliki banyak pilihan dan sebagai customer kita sudah di didik untuk mendapat pelayanan yang  cepat - dengan mesin atm, baik untuk penarikan maupun setoran. 

Pada akhirnya faktor manusia-lah yang menentukan, tingkat persaingan semakin tinggi, teknologi bisa dikejar namun bila kompetensi para manusianya - CS dalam hal ini tidak ditingkatkan maka akan mempengaruhi bisnins kita. Bagi para pejabat bank hal ini perlu dilakukan untuk memberikan added value bagi bank yang bersangkutan. 

Bagi para pekerja - apapun tuntutan pekerjaan maka mulai lah memperbaiki dari diri kita sendir, itu lebih baik daripada selalu menyalahkan sistem yang ada dan berkeluh kesah sesama pegawai dan menjelekan perusahaan kita mencari nafkah untuk keluarga.

KOMPETENSI yang baik bisa dimulai dari masing-masing kita sendiri koq.
itu pelajaran yang bisa saya ambil dari 2 kejadian kemarin itu. setujukah anda? 



Mari dipilih-dipilih...karena hidup adalah pilihan

seperti biasa pagi ini kite ngantor bermacet-macet ria, padahal dah pagi baru subuh lo berangkatnya, jam di tangan ku aja masih menunjukkan pukul 5.15 pagi shubuh. wuedan ndak tuch...

tapi pagi para pemegang KTP kabupaten botabek ini adalah hal yang sudah rutin dilakukan mungkina dalam 3 tahun terakhir makin pagi berangkatnya dari rumah untuk mencapai tempat kerja sesuai dengan jam yang telah ditentukan. Apapun kendaraan yang dipilihnya, mulai dari bus, kereta, motor sampai dengan mobil pribadi atau join dengan para tebengers.

pagi hari akan menjadi pemandangan yang rutin seperti ini. Namun, hari ini ada kesempatan melihat kenyataan ini dari sudut pandang yang lain. Hal ini saya temukan pada saat bertemu salah satu OB di rest room (alias toilet) - biasa... untuk menggunakan water styling foam untuk merapihkan rambut atau menyisir dengan pake aer keran :)


obrolan basa-basi pagi itu bermula dari pertanyaannya, "wah, pagi-pagi dah nyampe kantor nich pak?" sapanya, "iya.." jawabku "jalanan pagi ini ndak macet seperti biasanya nich"
"iya pak" sambarnya, "kalo pagi emang biasa macet sekarang-sekarang ini, Nah kalo siang baru dech pada berebut jalan" dia memberikan penjelasan lebih lanjut.
"berebut jalan ente bilang?" tanya ku."iya pak. kalo pagi walau dibilang macet tetep aja pada antri tidak saling nyrobot pak. Mau motor, mobil apalagi bus, masih pada mau antri tertiban lah getoo..." sang OB memulai penjelasannya. 
"Nah kalo siangan dikit, pan semua orang pada takut terlambat tuch, ada yang janjian dah ditelpon-telpon, ada juga yang mau meeting gitu dech" lanjutnya " itu baru ndak macet lagi pak, tapi semua orang pada berebutan jalanan..."
"tambah parah dong ya?" tanyaku."gitu dech pak..." jawabnya sambil senyum-senyum.

ternyata penjelasan sang OB itu ada benarnya juga, bayangkan di waktu yang "agak siangan" pasti semua orang sudah mulai berpikir jika waktu yang dimilikinya semakin sedikit, maka mulailah dia merasa harus cepat sampai, bahkan melakukan segala cara agar cepat sampai ketujuan - dengan cara berebut jalan itu tadi.

Kadangkala dengan kondisi seperti ini sifat "selfish" akan muncul dan tidak memperdulikan lagi kebutuhan orang lain. Yang penting gue sampe duluan, keadaan bisa semakin memanas dan tingkat kepanikan akan tinggi, emosi bisa meledak dan pada akhirnya produktifitas di kantor akan berpengaruh hari itu.



Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kejadian obrolan diatas, salah satunya adalah - 

  • persiapkan diri anda sebaik mungkin karena persiapan yang matang termasuk memperkirakan berapa lama perjalanan ke kantor dan juga kondisi jalan yang akan dihadapi akan meminimalisir tingkat stress yang akan anda alami. Bila tingkat stress ini rendah maka produktifitas anda akan tinggi dan badan juga jadi sehat dech.
  • hikmah yang didapat adalah kadang kita tidak bersyukur atas waktu yang telah diberikan sang penguasa jagad ini kepada kita, sering berleha dan terlena dengan apa yang kita punya. Semua kadang di kerjakan last minute, tentunya hasilnya bisa diperkirakan akan seperti apa bukan? kalo kita bisa memanfaatkan waktu yang diberikan pasti hasilnya akan lebih baik lagi. diberi tenggang perkerjaan untuk waktu seminggu, biasanya dikerjakan semalam suntuk sebelum hari datelinenya. hayooo... ada yang seperti ini?  
  • hal lain yang bisa diambil disini, dalam keadaan mendesak maka semua orang akan melakukan apa saja dan berani membayar berapa pun agar tujuannya tercapai semaksimal mungkin dengan harga yang kadang tidak mereka pikirkan. Nah... mungkin gojeg melihat peluang ini ya?


Sekarang, kalo kejadiannya seperti itu anda memilih berpikir yang mana?



Love Your Job... but Don't Love the Company

Bahan renungan yang bisa kita, para employee/pekerja baca dan cerna dengan kejernihan akal pikiran kita sendiri. terutama bagi anda yang mengaku menjadi karyawan teladan :)

Dr APJ Abdul Kalam adalah CEO sebuah perusahaan IT dari India yang pernah berbicara dalam sebuah sesi dengan para karyawan tentang filosofi ini. CEO tersebut termasuk dalam 50 orang paling berpengaruh dalam dunia bisnis di Asia (dirilis oleh majalah Asiaweek). 

 
INTINYA CERITANYA ADALAH :


Bagi yang tertarik membaca pandangan dia secara mendalam, berikut kutipan kata-katanya:

Saya sering menjumpai orang-orang yang bekerja selama 12 jam sehari, 6 hari seminggu, atau lebih. Beberapa diantaranya melakukan hal tersebut karena diburu-buru oleh deadline, memenuhi target yang telah ditetapkan. Bagi mereka, waktu-waktu panjang yang penuh lembur hanyalah bersifat sewaktu-waktu saja. 


Adapula yang menjalani jam-jam panjang dalam hari-hari mereka selama bertahun-tahun: entah karena orang-orang ini merasa telah mengabdikan diri sepenuhnya kepada pekerjaan, atau bisa juga disebut workaholic.

Apapun alasan yang orang buat untuk bekerja lembur, kondisi tersebut berpengaruh TIDAK BAIK kepada orang yang menjalani maupun orang-orang sekitarnya. Berada dalam kantor selama berjam-jam dalam rentang waktu yang lama, bisa menimbulkan potensi yang cukup besar bagi yang menjalaninya untuk membuat kesalahan. 


Rekan-rekan saya yang saya kenal sering bekerja lembur, sering membuat kesalahan karena faktor kelelahan. Membetulkan kesalahan-kesalahan ini tentu saja membutuhkan waktu dan tenaga tidak saja dari dirinya sendiri, melainkan orang lain yang secara langsung maupun tidak langsung bekerja bersamanya.

Masalah lain adalah orang-orang yang bekerja pada perusahaan yang menetapkan waktu kerja yang ketat seringkali bukanlah orang-orang yang secara pergaulan menyenangkan. Parakaryawan dari perusahaan dengan tipe seperti ini sering mengeluh atau komplain mengenai orang lain (yang tidak bekerja sekeras mereka). Mereka menjadi mudah tersinggung, dan mudah marah. Orang-orang lain menjauhi mereka. Perilaku semacam ini secara organisasi tentunya merupakan masalah besar: hasil besar akan dicapai oleh sebuah organisasi apabila ada jalinan harmonis dalam kerja sama tim antar karyawannya, bukannya bekerja sendiri-sendiri dan saling menjauhi.

Sebagai seorang manajer, saya harus membantu orang lain untuk meninggalkan kantor tepat waktu. Langkah pertama dan terpenting adalah saya lah yang harus memberi contoh dan pulang ke rumah tepat waktu. Saya bekerja dengan seorang manajer yang menyindir orang-orang yang bekerja lembur terlalu lama. Ajakannya menjadi kehilangan makna ketika orang-orang menerima emailnya dan melihat jam email tersebut dikirim ternyata jam 2 pagi. Untuk mengajak orang melakukan suatu hal, langkah terpenting adalah memberi contoh dengan melakukannya sendiri.

Langkah kedua adalah mengajak orang untuk menjalani hidup yang seimbang. Sebagai contoh, berikut ini adalah langkah-langkah yang menurut saya cukup membantu:

  1. Bangun pagi, sarapan dengan menu yang baik, lalu berangkat bekerja..
  2. Bekerjalah dengan keras dan pintar selama 8 atau 9 jam sehari..
  3. Pulanglah ke rumah
  4. Baca buku atau komik, menonton film yang lucu, kumpul-kumpul dengan rekan-rekan.
  5. Makan yang sehat dan tidur yang cukup

Langkah-langkah ini disebut sebagai recreating. Mengerjakan langkah 1, 3, 4, dan 5 akan memungkinkan langkah 2 dilakukan secara efektif
dan seimbang.

Bekerja secara normal dan mempertahankan hidup yang seimbang adalah konsep yang sederhana


Langkah-langkah tersebut mungkin akan sulit dilakukan oleh sebagian orang karena orang tersebut akan menganggap perlunya perubahan mendasar yg bersifat personal pada dirinya.
 

Sebenarnya langkah-langkah ini memungkinkan untuk dilakukan oleh setiap orang, karena kita memiliki kekuatan untuk memilih apa yang
akan kita lakukan.'





Menyeberang Jalan dan Membangun Bisnis

Pagi ini sebelum saya berangkat kantor, saya bermaksud untuk mensetrum aki motor yang sudah mulai soak. Kebetulan saya tinggal di daerah penyangga Surabaya, Sidoarjo (tapi masih jauh koq dari lumpur :), setelah memperhatikan jalan ternyata kios aki ada di seberang jalan. Saya pun memarkirkan mobil di sebelah kiri dan mencoba untuk menyeberangi jalan menuju kios aki.

Jalan itu sendiri merupakan jalan dengan 4 jalur dan dibatasi oleh marka tembok jalan + 25cm tebalnya. Pagi itu sekitar jam 7.30 pagi, tidak ada jembatan penyeberangan, tidak ada zebra cross maupun "pak Ogah" yang menyetop kendaraan.

Arus kendaraan sangat padat, terutama sekali di arah jalan yang menuju kota Surabaya. Kendaraan yang lalu lalang di dominasi oleh motor & angkot yang berebut penumpang. Sementara mobil-mobil pribadi dengan riuh rendahnya membunyikan klakson mereka, membuat truk-truk besar yang berjalan lambat makin tidak bergerak cepat. Tampak sang supir truk bersungut-sungut memanyunkan bibirnya :)

Sesekali terdengar suara mendecit dari rem kendaraan yang bergerak. Suara mesin motor pun tidak mau kalah meraung-raung, bak ribuan tawon mengejar pengganggu sarang mereka. Hal ini tampak jelas pada saat lampu hijau di persimpangan jalan. Wussh..Nggeng..wuing...din..dinn..teett... begitu bunyinya.

Saya pun membutuhkan waktu hampir 20 menit untuk memberanikan diri menerobos kendaraan yang bergerak tak beraturan pada jalur Sidoarjo-Surabaya, kini sudah ada 3 jalur kendaraan mobil di ruas jalan yang diperuntukkan untuk 2 jalur mobil saja. Ditengah jalan pun saya masih mendapat klakson dari mobil yang merasa terganggu karena saya menyeberang plus makian pengendara motor yang sudah terlambat masuk kantor tampaknya.

Wuih!!! sampai juga saya di atas tembok marka jalan. Sambil menyeka keringat saya pun berjalan santai menyeberangi jalur Surabaya-Sidoarjo. Jalan santai....? ya betul. saya pun baru menyadari saat duduk di kios aki yang saya tuju.  

Setelah saya perhatikan, ternyata kepadatan di jalur Surabaya --> Sidoarjo berbanding terbalik 180 derajat dengan jalur Sidoarjo --> Surabaya. Disisi sebelah sini hanya berisi beberapa mobil pribadi dan motor, lebih banyak di dominasi kendaraan umum, angkot dan minibus antar kota (kami biasa menyebutnya Bison - ELP kalo di daerah BOTABEK.red).

Pemandangan ini membuat saya tertegun!

Jalur menuju surabaya itu pastilah didominasi para karyawan perusahaan yang sudah terlambat masuk kantor dan minimal takut di marahi bosnya, kalo tidak di potong gaji karena absen cekloknya sudah berwarna merah, atau tidak bisa menitip ceklok karena perusahaannya sudah canggih menggunakan absensi sidik jari. Seperti saya yang sudah pasti telat masuk kantor :(
Pengalaman kecil menyeberang jalan pagi itu, membuat tekad saya semakin bulat untuk membangun bisnis saya sendiri, ndak apa-apa mulai dari yang kecil dan bisnis sambilan (tapi tidak sambi lalu looh...)
  • - Ya, hitung-hitung mengurangi kemacetan jalan lahh... kan berkurang 1 mobil he..he..
  • - tidak akan stress lagi di klakson mobil dari belakang,
  • - tidak marah & maki-maki sendiri karena mobil di serempet motor
  • - ndah perlu bangun pagi untuk mengejar absen ceklok di kantor :)
  • - bisa menyambut pagi dengan keceriaan tanpa stress di jalanan,
  • - bila punya bisnis sendiri mungkin jam segini masih bisa main tenis dulu ya?
Ya... sekedar sharing, setelah mumet bermacet-macetan di jalan raya.