Manusia 4 Quadrants

Apakah Quadrant terbaik yang ada di 4 cashflow quadrant Robert T.Kiyosaki? Apakah benar quadrant sebelah kanan selalu lebih baik dari yang disebelah kiri? Apakah semua orang harus jadi businesman? Namun, Nabi Muhammad SAW pun mengajarkan untuk berdagang atau berbisnis.

Be Yourself-Look for your passion

Jadilah diri sendiri, cari the real passion yang kamu punya dan bekerjalah berdasarkan itu maka semuanya akan terasa lebih mudah dan ringan, semua tampak santai untuk dijalani dengan hasil yang sangat berbeda bila kamu terpaksa melakukannya

Online Business

Semakin maju peradaban ini memuat semua transaksi juga mengalami perubahan drastis, apakah anda akan menjadi konsumen atau ingin terlibat langsung dan mendapatkan rezeki dari bidang baru ini?

Tak Ada Waktu Membaca

Buku adalah jendela ilmu dan dunia, bila anda tak punya waktu untuk membaca buku namun ingin mendapatkan kesempatan menambah ilmu maka baca saja ringkasan atau intisarinya, anda tetap mendapatkan informasinya tanpa harus membuang waktu anda.

Olahraga Yuk's

Belajar untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh dengan melakukan exercise yang benar dan mengkonsumsi makanan yang bergizi tentunya

Showing posts with label wisata-kuliner. Show all posts
Showing posts with label wisata-kuliner. Show all posts

Nasi liwet Bu Wongso Lemu-SOLO

Kali ini di Solo, wisata kuliner malam diajak kawan makan di another warung pinggir jalan - penjual Nasi liwet yang terkenal di kota SOLO - Jawa Tengah, namanya Bu Wongso Lemu terletak di jalan Ronggowarsito-Solo. 

Seperti tempat makan "yummy" yang tradisional, maka lahan parkir mobil adalah masalah klasik yang ada di daerah ini juga, karena sepanjang jalan ini yang jualan buanyak loh. bisa dibilang sepanjang jalan ini jualan semua, nasi liwet semua lagi :)

Berikut saya tag lokasi warung yang sempat saya kunjungi ini di google map, lokasi tepatnya dan warung tenda yang terlihat dari pinggir jalan. 


notes - hebatnya itu ternyata sepanjang jalan disitu hampir semua warung menjual menu yang sama: nasi liwet dan teman-temannya ya... ceker sama krupuk juga kayaknya.


dahsyatnya adalah semua mengaku Nasi liwet asli - Bu Wongso Lemu, tadi hanya ndak sempet tanya ke mba penjaga warungnya apakah mereka itu masi sodaraan - karena banyak juga yang memajang tenda dengan tulisan Nasi Liwet bu Wongso lemu yang ASELI lohhh!!!




Alamak jang, persaingan bisnis itu sudah sedemikan hebatnya sampai-sampai differentiation tidak terjadi - yang penting nama Bu Wongso Lemu Je. :)

tertulis besar-besar di tenda yang menutupi warung nasi liwet yang ada disana.


Mengenai rasa ya... seperti nasi liwet lah; mungkin karena pengaruh lapar juga saat itu membuat saya bisa tambah lagi dengan menu lengkap! berikut adalah photo penampakan nasi liwet dan cemilan ceker yang nangkring di atas meja.

Maap kaleng/stoples krupuknya tidak ikut mejeng dalam 1 frame photo ini ya..


Warung ini sendiri dalam sebagian besar tempat makannya dibentuk dalam style makan lesehan di bawah.(kalo diatas gimana ya? -red)

Saya hanya melihat 1 meja panjang yang lengkap dengan bangku panjangnya, mungkin cukuplah untuk 6 orang dewasa berukuran sedang dan small lah ya.
Ndak bisa yang oversize, kalo jenis ini ya... muat 4 orang oversize lah. the rest... is lesehan mawon (saja) lah.... mungkin agar lekas kenyang, terus pergi dan ganti dengan pelanggan yang lainya.

Malam itu sich semua meja penuh namun tidak ada yang sampai berdiri menunggu disana, menurut "tour leader" amatir dan dadakan kami, kalo malam minggu atau libur bisa harus menunggu orang lain selesai baru bisa dapet tempat disini.

Pengamen juga tidak berhenti berkeliling silih berganti, mulai dari jenis musiknya Iwan Fals, Sheila on 7 sampai waljinahan ada disini. Untungnya kalo kita dah pernah kasih mereka sekali, "putaran" berikutnya mereka tidak ke meja kita lagi sich.

Untuk jajan malam dengan suasana yang memang khas Solo, mungkin bisalah dijadikan referensi dengan biaya yang cukup murah juga - berlima kami habis sekitar 200ribuan - dah pake minum yang beragam tuh, mulai dari teh manis, wedang jahe sampe ditawarin beras kencur kayaknya dech.

Soto Gading - ndak boleh ndak mampir


Ya... sarapan di Soto Gading yang terletak di jalan Brigjen Sudiarto solo ini adalah wajib, walau sebenarnya makan siang pun masih ok koq :) dasar memang lapar melulu ini mah, karena bukanya baru sekitar jam 9an, sedikit telah untuk sarapan dan kepagian untuk makan siang. 

Tapi masalah rasa mengalahkan semua jadwal makan yang ter-schedule hehehe...

lokasinya persis di pinggir jalan membuat parkir mobil agak sedikit bermasalah bila berkunjung ke rumah makan ini, karena ramai dan mungkin saja akan kesulitan untuk dapat parkir yang dekat dengan lokasi bila sedang tidak beruntung.

Menunya adalah soto ayam dengan teman makanan sampingan (dishes) yang luar biasa enak dan kadang berkolesterol yang dibuat seperti sate - paru goreng, telur burung puyuh, usus ayam, kikil, ati empela, brutu juga ada loh - kalo ndak tau brutu itu apa ya... googling aja dech. 

Tapi yang lain juga banyak yang enak koq, seperti tempe goreng yang garing, berkedel dan tahu goreng.

saya sukanya minum teh manis anget (rasa tehnya agak keset2 gitu dech), namun banyak yang order beras kencur dingin dan es kelapa muda dengan sirup merah yang terkenal disini.





satu porsinya cukup untuk tambah lagi buat yang hobi kuliner, bila yang sedang program 1 porsi beserta teman-teman dishes yang lain sudah lebih dari cukup. Karena pasti tidak tahan untuk ambil gorengan yang berjejer diatas meja :)


melihat kuali yang digunakan untuk memasak kuahnya saja sudah terbit air liur untuk mencobanya, dan rasanya bisa habis bermangkok mangkok. 




Antri ndak? 

Ya, seperti warung kuliner yang sudah terkenal, maka ini tidak bisa dielakkan lagi, kursi panjangnya selalu penuh bahkan belum selesai kita makan sudah banyak yang berdiri menunggu di sebelah meja. trotoar jalan pun tidak luput dari penempatan kursi untuk para pelanggan yang terus berdatangan. 



benar-benar maknyus, dengan harga yang cukup terjangkau membuat banyak orang berdatangan kemari. 
baik tua maupun muda, warung selalu penuh dan setiap hari loh, ini juga kata tukang parkir yang sudah bertahun-tahun mengelola parkir pengunjung soto gading ini.


Sstt... termasuk pa presiden Jokowi yang mantan walikota Solo ini juga pernah mengajak bu Mega untuk makan di rumah makan soto gading ini loh. Nih saya dapet photonya di internet pada saat browsing tentang soto gading ini.



So, jangan dilewatkan untuk datang kesini, mencicipi soto gading bila anda sedang berada di sekitaran SOlo. 

Monggo pinarak nggeh....

Kartika Sari Dago Bandung

Hueeebat!!! Itu kesan pertama saya masuk ke outlet Kartika Sari yang ada di daerah Dago Bandung. Gimana tidak, menurut saya, mereka hanya berjualan makanan oleh-oleh khas Bandung – yang dikenal orang dengan pisang molen – bisa membangun sebuta outlet yang megah di pusat daerah “wisata” Bandung dengan parkiran basement (mungkin muat sekitar 25-35 mobil) plus Secure Parking yang mengelola parkiran tersebut.


Saat itu hari minggu siang, 14.03 WIB parkiran penuh dan 1 jam pertama akan di charge IDR 2.000 saya hanya berfikir sebagai orang marketing. BRAND Kartika Sari memang sudah melekat dan pemiliknya mengerti itu dan saya rasa sangat menjaga brand tersebut. DIFFERENTIATION ada di kue mollen yang saya rasa tidak berubah sama sekali rasanya, dari mulai saya cicipi pada jaman kuliah dulu hingga saya sudah punya anak 3 sekarang ini.

Seingat saya dulu outlet mereka hanya ada di depan stasiun kereta Bandung dan harus masuk ke dalam gang lage, dimana hanya muat satu mobil saja. Sudah bisa dipastikan tidak muat bila ada mobil dari arah berlawanan, harus bergantian.
Dan sekarang, saya dengar mereka sudah juga mempunyai outlet di beberapa titik di Bandung.

Tampaknya para pembeli itu ada rasa harus membeli Kartika Sari sebagai salah satu oleh-oleh dari Bandung. Mereka laku kareana rasanya memang enak atau karena Bandungnya ya…?

Kalo anda pernah ingat tentang FO (Factory Outlet) yang dimulai dari Bandung dan berkembang pesat disana, Namun setelah di adopsi dan diterapkan didaerah laen tetap saja tidak sesukses bila membuat FO di kota Bandung. Mungkinkah bila kita membuka outlet Kartika Sari di luar Bandung akan mengalami hal yang sama?

Melihat outlet Kartika Sari di Dago itu membuat analisa marketing mix yang saya pelajari menjadi mudah. Menganalisa Price, Place, Product dan Promotion nya sangatlah gampang, karena tinggal melihat saja apa yang ada disana maka akan memenuhi semua criteria 4P itu.

Namun, pernahkah anda membayangkan bahwa saat outlet pertama dibuka adalah di dalam sebuah gang yang sempit….? Kalo mereka langsung buka di Dago apakah penjualannya akan seperti sekarang ini? Pernahkan sang pemilik membayangkan bakal sesukses ini dari marketing plan yang dibuatnya?

Pertanyaan-pertanyaan ini mengingatkan saya pada seminar yang diselenggarakan oleh Entrepreneur University pimpinan Purdie Chandra (pemilik franchise Primagama). Bila anda ingin sukses berbisnis mulai saja, langsung terjun tidak perlu banyak rencana. Membangun bisnis itu seperti kita pergi ke kamar mandi, langsung saja dan secara “otomatis” dilakukan. Bila lupa bawa handuk ya… keluar dulu untuk ambil handuknya. Gampang toch!

Hem… kedengarannya gampang sich. Gimana menurut anda?