Manusia 4 Quadrants

Apakah Quadrant terbaik yang ada di 4 cashflow quadrant Robert T.Kiyosaki? Apakah benar quadrant sebelah kanan selalu lebih baik dari yang disebelah kiri? Apakah semua orang harus jadi businesman? Namun, Nabi Muhammad SAW pun mengajarkan untuk berdagang atau berbisnis.

Be Yourself-Look for your passion

Jadilah diri sendiri, cari the real passion yang kamu punya dan bekerjalah berdasarkan itu maka semuanya akan terasa lebih mudah dan ringan, semua tampak santai untuk dijalani dengan hasil yang sangat berbeda bila kamu terpaksa melakukannya

Online Business

Semakin maju peradaban ini memuat semua transaksi juga mengalami perubahan drastis, apakah anda akan menjadi konsumen atau ingin terlibat langsung dan mendapatkan rezeki dari bidang baru ini?

Tak Ada Waktu Membaca

Buku adalah jendela ilmu dan dunia, bila anda tak punya waktu untuk membaca buku namun ingin mendapatkan kesempatan menambah ilmu maka baca saja ringkasan atau intisarinya, anda tetap mendapatkan informasinya tanpa harus membuang waktu anda.

Olahraga Yuk's

Belajar untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh dengan melakukan exercise yang benar dan mengkonsumsi makanan yang bergizi tentunya

Showing posts with label entrepreneur. Show all posts
Showing posts with label entrepreneur. Show all posts

Kalo dah kaya Mikirnya beda ya? ehm...


Dapat satu artikel menarik dari salah satu grup WhatsApp yang ada di handphone saya. Ternyata cukup menarik pandangan seorang Mark Zuckerberg, CEO Facebook, tentang 
  1. Mengapa saya memperisteri seorang wanita tidak berparas cantik?
  2. Mengapa saya menyumbangkan harta/saham facebook saya sebesar USD 45 Miliar, apakah untuk menghindari pajak?



yang dikatakannya di hadapan penggemarnya di Cina. Berikut ulasannya yang saya dapat
PERTAMA2 SAYA INGIN MEMBAHAS, APA ITU WANITA CANTIK, APA ITU WANITA TIDAK CANTIK Saya mempunyai banyak kesempatan bertemu berbagai wanita cantik. Namun, apa yang disebut wanita cantik kebanyakan berhati seperti kaca, jika sakit manjanya seperti seorang putri raja; dan juga penyakit angkuh. Dan juga akan bertanya kepada saya mengapa begitu kaya namun tidak mau berganti mobil? Saya tahu tujuan mereka adalah mau pamer di lingkungan teman. 
Wanita demikian walaupun secantik apapun, bila sanubarinya hanya menuntut/meminta, tetap kelihatan jelek, jiwanya juga kotor. Wanita demikian barulah dikatakan sebagai wanita berparas jelek, diberikan gratis pun saya tidak mau.
Kecantikan di luar akan berkurang nilainya seiring bertambahnya usia, namun kecantikan dari dalam akan bertambah nilainya seiring bertambahnya usia. Dalam hal ini para ahli ekonomi di Wall Street pasti mengerti, makanya saya sama dengan mereka, tidak akan bersentuhan dengan benda yang secara cepat turun nilainya. 
APA YANG SAYA SUKAI DARI PRISCILLA CHAN ISTERI SAYA? Raut wajah seorang wanita adalah cermin hati sanubari seseorang, senyumnya memukau selamanya. Sejak hamil, Priscilla sama sekali mengabaikan perubahan yang terjadi pada raut mukanya akibat kehamilannya. Tetap berpakaian sederhana, tanpa dandan, namum kebahagiaannya saya rasakan sepenuhnya dan juga nampak kepada orang lain. 
Saya mencintai kesederhanaan Priscilla. Saya mencintai penampilannya: bersemangat namun bijak, berani namun penuh kasih, berjiwa pemimpin namun juga bisa mendukung orang lain. Saya mencintai keseluruhannya. Saat bersamanya, saya merasa sangat nyaman dan santai. Saya sama sekali tidak merasa Priscilla tersanjung kepada saya. Selain memiliki kecerdasan intelektual yang tinge, dia juga memiliki kecerdasan emosi/sosial yang tinggi. Jangan lupa bahwa Priscilla adalah lulusan jurusan Kedokteran Harvard University. Anda bisa coba test masuk universitas tsb, jurusan Hukum, Kedokteran, Ekonomi adalah jurusan yang menjadi rebutan orang. Walaupun lulus test masuk belum tentu Anda bisa lulus penuh. Kalau mau dikatakan tersanjung, lebih tepat saya yang tersanjung kepada Priscilla, bukan sebaliknya. 
Perkawinan ibarat sepasang sepatu. hanya yang memakainya tahu sepatunya nyaman dipakai atau tidak. Priscilla paling cocok buat saya. Saya dan Priscilla adalah pasangan yang paling ideal di bumi ini. Saya berkenalan dengan Priscilla saat mengantre di toilet. Di mata Priscilla, saya adalah seorang kutu buku. Ini adalah jodoh. Di mata kalian, Priscilla adalah wanita yang tidak cantik. Namun di mata saya, ia adalah wanita cantik dan paling serasi dengan saya. Saya tidak bisa menahan diri memamerkan foto saya dengan Priscilla yang begitu berbahagia. Dalam foto nampak saya dan Priscilla begitu bahagia, damai, dan alami. 
Tips bagi kalian: sebagian wanita hanya melihat keburukan orang lain, tidak melihat kecantikan orang lain. Dengan demikian, kebahagiaan akan meninggalkan kalian, tidak berjodoh. Sebab, apa yang ada dalam hati itulah yang ada dalam kenyataan.
SEKARANG MEMBAHAS TENTANG PENGHINDARAN PAJAK YANG DITUDUHKAN KEPADA SAYA Kalian berpikir, saya menyumbang USD 45 Miliar apa untuk pamer kekayaan atau menghindari pajak? Apa otak kalian atau otak saya yang bermasalah? Apa yang kami sumbangkan USD 45 Miliar berbentuk saham sebetulnya, bukan nilai sebenarnya. tapi hanya nilai pasar. Bisa lebih tinggi atau lebih rendah nilainya, ini tergantung pasar yang menentukan. 
Dana yang kami sumbangkan untuk digunakan sebagai dana abadi untuk diinvestasikan ke sekolah dan rumah sakit. Saat kelahiran anak kami, kami berkunjung ke rumah sakit, bermaksud untuk bisa ikut berkontribusi dalam dunia pengobatan.
Seiring perkembangan teknologi yang maju pesat, kami sungguh berharap 100 tahun mendatang. Hampir semua penyakit dapat dicegah dan diobati. Saat ini, kebanyakan manusia meninggal akibat penyakit jantung, kanker, stroke, dan penyakit menular lainnya. Diharapkan berbagai penyakit tsb dapat teratasi dengan lebih cepat. Saat menyadari anak kami dan banyak anak lainnya berkemungkinan bisa menghindari berbagai penyakit, kita semua punya tanggung jawab untuk mewujudkan impian itu.
Saya tegaskan sekali lagi, saya dan isteri saya akan berkontribusi semaksimal mungkin untuk tujuan tsb. Di Silicon Valley, "Mengubah Dunia" kata itu bukan hanya sebuah slogan. Ia merupakan sebuah keyakinan dan kekuatan. Mimpi kami berharap melalui usaha keras kami untuk memperbaiki kualitas pendidikan, pengobatan, integrasi dunia, untuk disumbangkan kembali ke masyarakat, mengubah dunia. Membangun suatu dunia yang lebih baik untuk semua umat manusia. Teman2 sekalian, kami sedang melakukan upaya "Change The World", apa yang telah kalian lakukan? Saya mendengar di antara kalian banyak mengeluh, saya ingin katakan bahwa tidak ada artinya mengeluh, tindakanlah yang lebih bermakna. Saya dan Priscilla menyumbangkan 99% saham kami di Facebook, mendekati semua saham milik kami, apa kalian masih menganggap yang kami lakukan untuk menghindari pajak? Apa masih ada maknanya menghindari pajak? Banyak teman2 di China yang kaya raya, mengapa mereka tidak ikut menyumbangkan 99% harta mereka untuk menghindari pajak? 
LALU, TENTANG BAJU DAN MOBIL APA YANG SAYA PAKAI Betul, sepanjang tahun saya memakai T-shirt abu2 dan mobil yang sangat sederhana. Saya tegaskan, saya bukan orang yang berhari2 tidak ganti baju. Namun, saya membeli banyak T-shirt berwarna abu2. Saya berusaha menjalani hidup ini sesederhana mungkin, supaya menghemat pikiran dan waktu memutuskan berbagai hal yang tidak penting. Sebab memilih memakai pakaian, makan pagi, dan berbagai hal kecil itu menyita cukup banyak waktu dan pikiran. Saya tidak ingin membuang waktu hanya untuk hal2 kecil tsb, sehingga saya bisa lebih konsentrasi melakukan berbagai hal yang lebih bermanfaat untuk masyarakat. 
Saya memiliki tiga buah mobil, satu Toyota seharga USD 16 ribu, VW golf seharga USD 18 ribu dan Chevrolet TSX seharga USD 30 ribu. Setelah Facebook go public, saya ganti VW GTI seharga USD 30 ribu. Saya berpendapat, mobil hanya sebuah alat transportasi, tidak perlu yang mahal2.
Saya tidak memakai berbagai barang branded, yang penting saya merasa nyaman. Mengapa butuh barang2 yang berlebihan? Kalau yang menyangkut kebutuhan berlebihan, justru otak, perasaan sendiri lebih butuh diutamakan. Kata bijak Chinese zaman dulu, ‘Manusia harus menaklukkan benda bukan ditaklukkan benda”. Maksudnya adalah, berbagai materi kehidupan untuk digunakan/dikendalikan manusia, bukan sebaliknya. Saya sangat setuju dengan pemikiran tsb. Saya sangat salut ucapan yang pernah diucapkan Mandela, yaitu ‘Jiwa saya adalah pemimpin saya, nasib saya dikendalikan oleh diri saya sendiri’. Makanya saya tidak gila branded, tidak ada manfaatnya dan sangat tidak masuk akal. Apa yang ada dalam hati itulah kenyataan yang ada di dunia. Percayalah bahwa dunia ini adalah alam semesta yang indah, jika Anda tidak percaya, Anda tidak akan bisa memiliki dunia/alam semesta yang indah. Tidak akan memiliki kehidupan yang indah dan penuh kedamaian. Hal tsb di atas merupakan keyakinan saya dan Priscilla. Akhir kata, bila ada yang tidak berkenan, mohon petunjuk! Anda bisa tinggalkan pesan untuk saya. Terima kasih telah luangkan waktu mendengar yang saya sampaikan. Terima kasih[disingkat oleh WhatsApp]

Ini bisa menjadi bahan renungan untuk membuat resolusi tahun 2016 ternyata ada yang jauh lebih mulia dari sekedar uang dan harta benda di dunia ini. 

Kadang tanpa sadar kita hanya mencari harta benda di dunia dan menumpuknya saja, tanpa mengalirkannya. Hal inilah yang membuat hidup kita terasa capek di dunia ini. Hanya mengejar harta yang tiada akhirnya, seperti orang yang kehausan namun meminum air laut, akan terus terasa hausnya.

Nah bagaimana dengan anda? 


Rahasia tersembunyi para Miliarder Dunia



#1
Para miliarder mengatur pengeluaran di bawah pendapatan
Orang biasa sering kedapatan besar pasak daripada tiang

#2
Para miliarder tidak suka berjudi
orang biasa berharap mendapatkan durian runtuh

#3
Para miliarder selalu belajar dari kesalahan
orang biasa hanya bisa menyesali kesalahan

#4
Para miliarder selalu digerakkan oleh tujuan utama
orang biasa digerakkan oleh hal-hal yang membuat hidupnya terdesak

#5
Para miliarder memiliki kontrol emosi yang tinggi
orang biasa gampang marah, menangis atau kecewa

#6
Para miliarder selalu mengingat tujuan utamanya
orang biasa terombang-ambing karena tidak punya tujuan

#7
Para miliarder selalu konsisten dalam pencapaian tujuan
orang biasa memiliki keinginan yang selalu berubah=ubah

#8
Para miliarder memiliki daftar yang harus dilakukan
orang biasa selalu mengerjakan semua hal

#9
Para miliarder memilih pekerjaan yang benar-benar mereka cintai
orang biasa memilih pekerjaan yang menawarkan gaji besar serta benefit lainnya

#10
Para miliarder menekuni yang mereka cintai
orang biasa bekerja karena terpaksa

#11
Para miliarder bekerja sepenuh hati
orang biasa bekerja demi uang

#12
Para miliarder melakukan sesuatu sampai selesai
orang biasa sering bekerja setengah-setengah

#13
Para miliarder terbiasa fokus pada satu pekerjaan
orang biasa pikirannya banyak cabang

#14
Para miliarder tidak suka menunda pekerjaan
orang biasa selalu mengerjakan banyak hal sehingga sering menunda pekerjaan

#15
Para miliarder memberi nilai lebih saat bekerja
orang biasa bekerja sesuai job descriptions

#16
Para miliarder selalu melangkah maju untuk pertumbuhan bisnis
orang biasa berpikir sangat panjang dalam memulai sesuatu dan sering tidak jadi karena takut

Fenomena GO-JEK di Jakarta, merambah ke kota Anda?

Akhir-akhir ini saya banyak mendengar dan membaca tentang fenomena GOJEK terutama dari social media seperti Facebook dan TWITTER wall saya, banyak cerita yang miring sampai "tegak" :)
Nah, pasti kalian sudah banyak yang tahu kan atau sudah jadi pelanggan setianya saat ini?



Hari ini saya nemu cerita dalam status FB salah satu network saya - berikut ceritanya (tanpa saya edit hanya copas saja neeh) -

HANYA SEKEDAR UNTUK MENAMBAH WAWASAN SAJA.
=============================================
Kenapa Tukang Ojek di Gojek bisa Mendapatkan Income Hingga Rp 10 juta per Bulan?
Gojek sejumlah media menulis kisah yang menggugah. Jika tekun menarik order, seorang tukang ojek di Gojek bisa mendapatkan income hingga Rp 10 juta per bulan.Sebuan pencapaian yang sangat mengesankan. Terutama untuk profesi yang selama ini dianggap kelas pinggiran.
Kisah tentang Gojek adalah narasi tentang social innovation, keajaiban teknologi aplikasi, dan kejeniusan ilmu supply chain management.
Mari kita bedah satu demi satu dengan renyah di pagi hari ini.
Sejatinya GOJEK adalah perusahaan penyedia jasa transportasi yang berbasis pada kekuatan magis teknologi aplikasi. The power of Apps.
Salah satu sumber inefisiensi layanan tukang ojek adalah masa ngetem yang terlalu lama. Idle time kalau dalam bahasa supply chain management. Waktu kosong yang hilang sia-sia.
Gojek dengan kekuatan aplikasinya yang real time mampu memotong masa tunggu itu (ngetem untuk dapat order) dengan dramatis. Ribuan calon pelanggan yang telah mendownload aplikasi Gojek yang user friendly – dibuat untuk mudah melakukan pemesanan order pengiriman (entah jasa antar orang, dokumen atau barang).
Lantas ribuan order yang terkumpul itu, di-distribusikan oleh Gojek ke ribuan armadanya, yang berada pada titik paling dekat dengan yang memberi order, secara real time, seketika. Proses ini berlangsung secara kontinyu, real time.
Dengan proses sperti itulah, maka level produktivitas pengojek naik secara sangat signifikan. Dengan kekuatan ajaib aplikasi yang bersifat real time, masa tunggu pengojek bisa ditekan hingga nyaris titik nol.
Apa yang terjadi saat produktivitas naik secara dramatis. Otomatis, income juga bisa melesat ke level yang tak terbayangkan.
Just In Time Inventory. Ini adalah prinsip legendaris perusahan-perusahaan hebat Jepang seperti Toyota. Saat masa tunggu inventory bisa dibuat menjadi zero.
Dan persis prinsip seperti itulah yang diterapkan oleh Gojek dengan kekuatan aplikasinya. Hasilnya adalah keajaiban : seorang tukang ojek bisa mendapat income 10 juta per bulan.
Gojek mungkin contoh keindahan inovasi sosial berbasis teknologi : bagaimana kekuatan aplikasi (digital apps) bisa dimanfaatkan untuk memberdayakan ekonomi kaum kelas pinggiran (tukang ojek).
Ya, niatan untuk mengentaskan kemiskinan memang tidak diperoleh dengan demo, spanduk, rapat di gedung parlemen atau teriak-teriak di jalanan.
Kekuatan sebuah aplikasi yang jenius acap jauh lebih powerful dari itu semua. This is the beauty of digital technology.
Namun inovasi sosial yang jenius dari Gojek ini mendapatkan tantangan dari dua kekuatan. Dan keduanya bisa menghancurkan bisnis Gojek.
Yang pertama adalah resistensi dari para tukang ojek pangkalan. Ini adalah potret muram dari proses inovasi teknologi : bagaimana kekuatan otak (kemudahan teknologi digital ) harus berhadapan dengan kekuatan otot yang enggan menerima proses perubahan zaman.
Dan kita tahu, pertempuran melawan kekuatan otot acap jauh lebih melelahkan dibanding harus bertarung melawan kekuatan otak.
Proses inovasi teknologi memang kadang justru gagal karena masyarakatnya sendiri secara sosiologis tidak siap menerima perubahan. Fenomena yang juga lazim terjadi dalam berbagai kisah perubahan korporat (corporate transformation process).
Status quo dan comfort zone kadang menjadi dua algojo yang acap sukses menjegal potensi kekuatan inovasi.
Kekuatan kedua yang juga bisa merobohkan bisnis Gojek datang dari rival yang tak kalah menggetarkan. Yakni Grab Bike. Perusahaan yang sama dengan Gojek, namun datang dari pengusaha Malaysia. Dan dengan dukungan modal hingga 2.5 triliun.
Dengan dukungan dana nyaris tak terbatas itu, Grab Bike langsung meletuskan amunisi peperangan. Mereka segera meluncurkan “predatory pricing war” : tarif promosi ojek Grab Bike hanya Rp 5 ribu kemana saja (tarif promosi Gojek 10 ribu, dan kini sudah naik ke 15 ribu).
Grab Bike juga memberikan upah ke pengojeknya 90% dari total order, sementara Gojek hanya 80%. Grab Bike juga memberikan program berangkat umroh kepada pengojeknya yang berprestasi (akhirnya tukang ojek juga bisa naik umroh. Bukan hanya tukang bubur).
Perlawanan keras dari Grab Bike itu segera membuat Gojek agak gentar. Pricing war yang berkepanjangan pada akhirnya bisa membuat keduanya malah bangkrut. Bisnis memang kadang brutal dan tak kenal ampun.
Kita tidak tahu apakah Gojek akan bisa mengatasi perlawanan dari dua dimensi yang berbeda itu dengan sukses (resistensi dari ojek pangkalan dan rivalitas bisnis dengan Grab Bike).
Btw, pendiri Gojek sendiri Nadiem Makarim bukan anak muda sembarangan. Pria muda Jakarta ini alumnus Harvard Business School (sekolah bisnis terbaik di muka bumi).
Dengan mudah Nadiem sebenarnya bisa melamar kerja di Wall Street dengan gaji puluhan ribu dollar per bulan. Namun ia memilih pulang ke tanah airnya, demi membangun bisnis yang memberdayakan kaum kelas pinggiran. Melalui kekuatan aplikasi digital.
Jajaran manajemen dan pendiri Gojek lainnya juga diisi oleh para alumnus dari sekolah bisnis hebat seperti University of Chicago. Dan rata-rata pernah bekerja di perusahaan kelas dunia.
Dari sisi kualitas, SDM yang menduduki peran kunci di Gojek sebenarnya setara dengan mutu SDM di perusaahaan top seperti Google, Microsoft ataupun IBM.
Mereka secara kolektif adalah one of the best management brains di tanah air.
Saya sendiri berharap Gojek bisa berhasil dalam misinya. Mereka bertekad untuk merekrut puluhan ribu pengojek baru.
Mungkin Anda berminat juga? Lumayan kan kalau dapat 10 juta per bulan Daripada kerja lembur namun gaji hanya sekelas UMR
Jika bisnis Gojek berhasil, dampak mereka dalam memberdayakan ekonomi kaum kelas pinggiran bisa sangat mengesankan.
Sekali lagi, itulah kekuatan social innovation yang berbasis pada kekuatan teknologi digital.
Welcome to Digital Innovation. Everyone is Invited.
by: MUSLIM ENTREPRENEUR
"Sharing Wirausaha Muslim & Permodalan"
# gambar ambil dari google grin emoticon



Sang Inspirator sedang terpuruk

Anda kenal siapa yang ada dalam photo disebelah ini?
Ya, dia adalah Purdi E.Chandra salah seorang inspirator bangkitkan jiwa enterpreneurship di Indonesia - anda pasti kenal dengan universitasnya yang di singkat EU (Enterpreneur University) yang telah menelorkan banyak "alumnus" yang berhasil di bidang wirausaha di Indonesia.

Virus enterpreneur yang ditularkan terkenal dengan jargonnya - "CARA GILA JADI PENGUSAHA". Dia juga adalah pendiri dari bimbingan Primagama yang telah berkembang pesat dan merambah ke berbagai bisnis yang lainnya.

Dia juga salah seorang yang telah "meracuni" pikiran saya tentang enterpreneurship. Terutama dengan pemikirannya yang sangat provokatif sehingga membuat saya berpikir juga. Apakah saya sudah berada di jalur yang benar?

Beberapa artikelnya saya "copas" juga dalam sub-blog 4Quadrant saya, dengan membacanya pasti saya yakin anda akan merasakan bahasa provokatif yang menantag kita untuk berpikir dan menjadi "gerah" - terutama bagi mereka yang sedang berada dalam zona nyaman saat ini. 

Apakah provokasinya berjalan dengan baik?
saya rasa ya, dari sisi lulusan EU banyak yang berhasil menjadi orang kata orang tua saya dulu. angkatan 'mahasiswa' nya juga sudah puluhan di berbagai kota. saya pernah juga menhadiri salah satu seminar EU ini dan sharing dari para senior yang sudah terjun langsung dalam bidang kewirausahaan ini dan juga mendengarkan langsung dari Purdi E.Chandra secara langsung. Memang sangat provokatif dan benar-benar "makjleb" - istilah saya - saat mendengarkan paparan dan jawaban2 yang diberikannya.

renungkan dengan hati tenang dan "open mind" maka kita akan mendapatkan pencerahan atau pun memahami pemikiran yang coba dilontarkannya, tanpa harus menghakiminya sebagai sesuatu yang harus ditelan mentah-mentah dan langsung dilaksanakan.
salah satu yang paling saya ingat adalah pertanyaannya kepada para peserta seminar yang saya hadiri saat itu -

"Anda masih bekerja saat ini? mau jadi pengusaha?" begitu tanyanya "Ya, sudah besok ajukan saja surat resign ke atasan anda maka lusa anda sudah bisa jadi pengusaha" - provokatif-kan :) apakah semudah itu? bisa YA bisa TIDAK.
ketika ditanya alasannya, dengan santai dia bilang - "kalo sudah resign kan ndak ada pemasukan, maka anda akan berpikir dengan keras bagaimana caranya mendapatkan pemasukan. Nah, anda akan langsung menjadi kreatif!" lanjutnya "ciri dan syarat menjadi pengusaha adalah kreatif dan manusia akan cepat kreatif bila kepepet kan. Jadi, ya pepetkan saja sekalian"

Namun, malam ini secara tidak sengaja saya browsing di google ternyata bapak ini sedang di rundung masalah hingga akan di penjarakan segala, begitu berita yang saya baca di web panajurnal dan web direktorat jenderal pajak, kejadiannya sudah berlangsung dari tahun 2013 kemarin ternyata. 

Nah, cukup menarik untuk mengikuti perkembangan dari kasus ini. Namun saya yakin akan ada banyak komentar yang beragam mengenai kejadian ini. Baik yang positif untuk para pendukung Purdi E.Chandra atau pun yang negatif bagi para penentangnya. Sperti biasa...:)


Saya termasuk anggota telat grup yang mengetahui masalah ini?
kemana aja ya selama ini? jadi mikir dech, apakah ini salah satu inconsistent yang saya bahas di tulisan untuk review 2014 ya? bisa jadi iya, jika IYA memang terbukti dech. Mari berbenah sebelum terlambat lagi! karena sekarang dah terlambat juga dibandingkan dengan teman seangkatan nich :(



Bungkus Pisang Goreng Part 2


Penasaran gara-gara artikel koran yang saya baca saat berteduh dibawah jembatan laying, di kantor kusuruh Ratmin, pesuruh kantor untuk mencari Koran Kompas terbitan 28 April 2007.

Walaupun sambil menggerutu tak sampai waktu makan siang Koran itu sudah sampai di mejaku. Langsung ko bolak balik mencari artikel yang kemarin. Pass, ketemu juga akhirnya, seperti dugaanku semula masih ada artikel yang lain disana.

Kini, membahas mereka yang berhasil karena PHK.

Ada seorang mantan pegawai bank BHS yang dilikuidasi kini sudah menjadi juragan mobil sewaan. Mobilnya sudah mencapai 7 unit mobil. Keberhasilan itu memang harus dibayar dengan harga yang cukup mahal menurutnya.

Bisnis ini dimulai dari satu mobil dan bukan disewakan tapi menjadi anter jemput anak sekolah. KArena langganan yang semakin banyak dan kepercayaan mereka, maka jumlah mobilnya pun bertambah. Belum lagi orang-orang yang menitipkan mobilnya dengan cara bagi hasil dengannya.

Tantangan yang terasa saat berpindah kuadran adalah:

  • cemoohan dari anak yang biasa melihat bapaknya berpakaian perlente pergi ke kantor, kini hanya berpakaian seadanya
  • keluarga menjadi malu, terutama anak-anak. Istri juga demikian, namun pada akhirnya dia mendukung juga.
  • Mental yang kuat karena harus bekerja dari bawah, seperti menghubungi orang tua anak-anak tersebut untuk menyewanya sebagai antar jemput sekolah

Ada lagi mantan pegawai bank Papan Sejahtera, kini ia menjadi pemasok pakaian jadi untuk pelanggannya yang kebanyakan berasal dari luar pulau jawa. Hal ini diakuinya didapat dengan cara yang tidak sengaja.

Kejadiannya pada saat ia menjadi supir taxi mendapat penumpang dari Banjarmasin yang sedang kerepotan mencari sumber pakaian muslim untuk dijual di Kalimantan. Ia mengantarnya ke Pasar Baru, dan meninggalkan nomor telopon bila si ibu datang lagi ke Jakarta untuk berbelanja.

Awalnya ia mengaku meninggalkan no hp agar bisa menggunakan jasa taxinya, namun setelah beberpa kali mengantar dan melihat belanjaan ibu tersebut yang cukup banyak. Ia menawarkan untuk mencarikan barang dagangan ibu itu, dan mengirimnya ke Kalimantan.

Gayung bersambut! Ia pun kini sudah mempunyai cabang hingga ke Surabaya sebagai peamsok pakaian jadi muslim. Memang REZEKI ndak kemana, ada saja jalannya.

Artikel yang menarik…

Jadi teringat salah satu pembicara seminar yang saya pernah ikuti yaitu pada saat orang memulai usaha. Pasti akan ada waktu turunnya dulu. Sama persis seperti burung Rajawali yang akan terbang tinggi, tidak langsung menanjak ke atas tapi harus ada kurva turun dulu sedikit baru naik. Inilah filosinya dan tinggal tekad kita yang dapat mempercepat kurva turunnya agar cepat menanjak.

Melihat 2 artikel di Koran itu tampaknya kecerdasan intelektual (IQ) yang tinggi pada satu titik harus dibenturkan pada kenyataan hidup yang tidak bisa dihitung secara matematis maupun nalar. Kecerdasan Emosi (EQ) pada titik ini akan memerankan peranan yang lebih besar!

Pertanyaannya bagi saya kini adalah apakah orang lain akan memutuskannya bagi saya atau saya bisa menyiapkannya dari sekarang dan membuat keputusan independent bagi saya sendiri?

Atau mungkin melihat peluang lain untuk bergerak di 2 kuadaran? Walaupun hamper semua orang sepakat hal ini jauh lebih tidak mudah dalam memanage segala halnya. Keahlian ini tidak bisa didapatkan hanya dengan membaca buku dan ikut seminar…

EDUCATION + STREET SMART = SUCCESS

Life is full of choices, but you can only choose one choice at a time” ME

NOSTALGIA PLEMBANG

ndak terasa dah hampir 6 tahun kami sekeluarga meninggalkan kota plembang, hari ini aku berkesempatan datang berkunjung ke kota ini lagi. tepat sebulan setelah sea games XXVI selesai. Dikota inilah anak pertamaku lahir dan menjadi wong 'plembang' kito galo :) Jadi, serasa kota kedua dan banyak tau tempat2 kuliner yang rasanya TOP MARKOTOB MAKNYUS LAH :)

kemaren dan dimulai dengan pindang patin kepala (kata yang jual baungnya ndak katek... hiks... menurutku ikan baung lebih mantab dari pada ikan patin); sore dilanjutkan dengan tekwan & mpek2 - ngiler ngeliat kawan makan model tapi lah penuh perut ku nih; esok paginya mie atet lapangan hatta dech untuk sarapan...  hem... maknyus!

target berikutnya untuk maksi terlalu banyak pilihan untuk waktu kunjungan yang singkat - burung dara tenda biru; sop buntut belakang gubernuran; gado-gado RRI; soto ayam belakang IP mall; soto betawi sayangan atau veteran; pindang musi rawas simpang pakjo or demang lebar...

wah.... banyaknya! sedang sibuk milih sudah masuk SMS tercinta dengan bunyi "jangan lupa! oleh-oleh mpek2 lenjer, telo',adaan, plus kapal selam komplet! krupuk jangn pulo lupo... kemplang goreng en bakar, ikan putak." begitu isi smsnya atau... "Jangan pulang sekalian!" - bah iklan banget ya :)

Ehm, terbayang sudah bakalan berdus2nich bagasi gue balik jakarta

Namun, saat membeli oleh-oleh di toko 301 jl DEMPO aku lihat bapak cina tua  yang 6 tahun lalu kulihat jualan otak-otak dengan 2 keranjang plastiknya masih saya tetap berjualan otak2 yang sama. Semuanya masih sama sesuai dengan ingatan dalam memoryku, hanya wajahnya saja yang semakin tua kini.

apa yang terjadi pak? waktu berhenti? atau tidak mengikuti jaman?

sementara ku dengar mpek2 langganan keluarga kami sudah punya 5-6 cabang di kota ini, tukang mie makin banyak mejanya, dulu hanya gerobak dan 1 meja saja, tukang nasi padang mangkin banyak pulo cabangnyo...

tapi....

apa aku sudah berubah menjadi maju juga ya? setelah jumpa dengan kawan2 sesama employee dulu bahkan ada mantan anak buah... kini mereka sudah menjadi owner dan dengan bangga menunjukkan toko dan bisnis mereka. "Gue dah jadi direktur sekarang Vie, ndak harus buat laporan dan dikejar sama bos tiap bulan he... he... he..." begitulah ujar mereka.

So, apa aku ndak ada beda sama tukan otak-otak di jalan dempo yang menjajakan dagangannya dengan "mungkin" keranjang yang dipakenya juga sejak 6 tahun yang lalu.

Wallahuallam, but... you still think and making plan? no execution?



APA YANG SALAH?


Dalam perjalanan saya kali ini Jambi-Palembang, saya banyak bertemu teman2  lama disana. Hampir semua sudah jadi pengusaha sekarang. Ada juga sich yang masih kerja sebagai employee, masih ikut orang istilah mereka dan... tidak banyak perubahannya tuch, semenjak saya tinggalkan wilayah itu sekitar 5 tahun yang lalu 

Namun, dari  5 orang yang saya jumpai disana ada 1 orang yang hingga terakhir saya jumpa masih berkutat dengan masalah-masalah. Nah, kawan lama pengusaha ini agak berbeda dengan cerita 2 kawan yang berhasil di sharing saya sebelumnya.

Walau dia sudah memulai usahanya sejak tahun 2004, namun sejak buka hingga hari ini masih dirundung masalah dan yang bertubi-tubi, mulai dari anak buahnya yang mencuri uang kantor, di-“polisikan” oleh suppliernya, hingga menggunakan preman dan menteror keluarganya, saudara iparnya yang menggerogoti dari dalam walau sudah diberi pekerjaan di perusahaannya, hingga komunitas yang mencibir dan membuangnya dari lingkungan mereka.

Hebatnya kawan ini hingga hari ini masih bertahan, walau waktu aku tanya gimana kondisinya sekarang setelah hampir 6 tahun berlalu. “Kembali dari awal! Saya memulainya dengan 1 orang pegawai administrasi dan keuangan plus office boy merangkap penjaga gudang yang lebih sering kosongnya dari pada terisi oleh barang ” begitu jawaban yang dia berikan ke saya

Setelah mengobrol dengan pembahasan “utara-selatan” (ngalor ngidul maksudnya red.) dia menceritakan apa yang terjadi mengenai usahanya, tekanan yang dia terima baik dari luar maupun dalam keluarganya sendiri (keluarga dari pihak dia maupun istrinya), beberapa kali keluar masuk rumah sakit, bolak balik ke Polda, dsb... dsb... dsb... banyaklah keluhannya!

Dia bercerita sambil meneteskan air matanya, membayangkan betapa berat semua yang dialaminya. Setelah mendengar semua ceritanya, Aku pun bertanya : “kalo aku yang mengalami hal seperti itu, apakah bisa sekuat dia ya...?” hampir sejak ia membuka usaha, hanya di satu tahun pertama lah dia merasakan nikmatnya menjadi seorang pengusaha, setelah itu hampir 4 th berselang dia terpuruk dan makin terpuruk saja.

Pertanyaan saya cukup sederhana, setelah mendengarkan kisahnya yang seperti sinetron di tv-tv itu. “Apa yang salah dengan mu kawan?” dan tanpa disangka-sangka dia terkejut dan memberitahukan saya bahwa saya adalah orang kedua yang bertanya seperti itu. Tadinya dia tidak menggubris saat orang pertama yang berkata seperti itu, mungkin hanya sekedar bertanya dan basa-basi saja.

Karena pagi itu saya sudah ada janji yang lain dan sudah mepet waktunya, maka kami pun berpisah untuk bertemu lagi malam nanti.
Malam, itu dia datang dan setelah makan malam dia pun membuka pembicaraan. “Ya, saya sudah coba renungkan apa yang kamu tanya pagi tadi?” ujarnya. Lalu mulai lah dia bercerita hal lain yang tidak dia ceritakan pagi tadi.

Dia menceritakan bagaimana bangga-nya, bila tidak mau dibilang sombong atas kesuksesan yang cepat diraihnya hanya dalam tahun pertama sudah bisa meraih omset yang besar, dia pun dianggap sebagai pahlawan keluarga baik dari pihak dia maupun sang istri, walau pun rajin menjalankan ibadah, namun dia selalu menceritakan apa yang sudah dilakukannya dalam ibadah itu. Bagaimana dia rajin berdoa, melakukan sedekah, dan sumbangan-sumbangan lain. Semua ini diceritakannya kepada orang lain dengan rasa bangga.

Tulus, ikhlas dan bersahaja, tampaknya tidak ada di kamus hidupnya. Saya sendiri pun tidak tahu apakah ini karena dia tidak melakukan semua itu atau tidak? Bila mendengarkan ceramah agama pasti itulah penyebabnya. Dia pun berjanji untuk merubah semua perilakunya itu dan saya... saya berkesempatan untuk melihat pembuktian bahwa kadang kesuksesan itu datang dari sikap kita sendiri – ini merunut buku-buku management dan motivasi yang saya baca. Namun, dari kaca mata keyakinan saya inilah saatnya membuktikan apakah tulus dan ikhlas bisa menyelesaikan masalahnya? Dan saya yakin bila itu masalahnya dan dia merubahnya pasti berhasil.

SUKSES SELALU Kawan.

Palembang, Mar 7



PERSISTENT =KONSISTEN?


Nah, ketemu lagi dech sama satu kawan lama lainnya yang ini agak berbeda, karena dari dulu dia memang agak berkelas. Terutama karena dia anak bungsu, anak laki satu-satunya di keluarga dan kebetulan orang tuanya cukup mampu. Jadi,... ya... memang sejak muda dia sudah biasa menerima yang enak-enak 

5 tahun yang lalu saya terakhir bertemu dengan dia dalam kondisi masih di persimpangan, antara tetap bekerja sebagai employee atau menjadi enterpreneur.

Namun, jabatan kepala cabang yang di sandangkanya waktu itu yang membuatnya tetap bertahan. Hampir semua rekan kepala cabang yang lain yang saya kenal, selalu mencibirnya dengan mengatakan “Anak mami itu mana bisa jualan, ngegaya aja yang jago...”

Secara ekonomi menurut saya pada saat itu masih jauhlah bila di banding saya (pada saat itu red.) dia hanya menggunakan kijang capsul e tahun 97, rumah masih petak hanya ada 1 lorong seperti ruko dan gaji yang pas-pasan, bonus tergantung para pemegang saham. Karena walau dijanjikan dia mendapatkan saham kosong, namun pada pelaksanaannya itu hanyalah angin surga.

Lalu, sekitar 3-4 tahun yang lalu saya dengar terjadi perpecahan antara pemegang saham tempat dia bekerja. Beberapa cabang dibagi-bagi oleh 2 pemgang saham terbesar perusahaan tersebut. Pemegang saham lama yang menjadi mayoritas di cabang yang dia pimpin menerapkan sistem yang lebih fare. Dia mendapatkan saham kosong dan bisa menambahkan kepemilikan saham tersebut hingga maksimal 49%. 
Wooowww... ini mah sudah jadi partner usaha!

Dengan semangat seperti itu, kini saya tidak mendengar lagi keluhannya untuk keluar dari pekerjaannya. Kini yang dia ceritakan adalah: dia baru saya membeli tanah seluas 1.2ha untuk kantor dan gudang yang besar. Lalu, berencana pindah rumah dari tempat lama ke tempat baru yang bernilai 800juta dan posisi di tengah kota!

Hemmm.... hanya 4 tahun saja Broer! Dia sudah bisa membalikkan keadaan kini, saya masih pake kendaraan inventaris dia pake apa coba..? ALPHARD. Opo ora edan tenan!!!!

Terlepas dari semua yang pernah terjadi ada pelajaran yang bisa saya petik dari semangat kawan lamaku yang satu ini: 

KONSISTEN. Dia tetap melakukan pekerjaannya, membina customer2nya (karena saat saya tanya tidak ada customer yang baru). Saat semua kepala cabang rekannya memberikan kredit yang lebih lama atau mecari customer baru, dia tetap saja dengan gaya lamanya. Customer lama dibina dia dan 1-2 customer  baru dan biasanya tidak lama kemudian tidak di supplynya.

Kini, saat semua cabang kehabisan tenaga karena tidak liquid. Banyak piutang dibawah, dia tetap liquid. Cash flownya tetap terjaga. Karena dia konsisten dengan sikapnya yang tidak memberikan kredit lama dan tidak melakukan ekspansi customer baru di wilayah customer lamanya.

Karena dia KONSISTEN melakukan ini maka customer loyalnya pun mempunyai pilihan, mau safe belanja dengan dia atau mencari barang2 yang murah karena distributornya perang harga mereka akan ke tempat lain.

PERSISTENT. Walau pun segala macam godaan, keraguan dan hambatan yang dia alami dalam melakukan bisnis ini sehari-hari. Ternyata ... who’s the one who laugh at the end

Semangatnya dan dukungan keluarga inti yang besarlah yang bisa membuat dia bertahan untuk tetap melakukan apa yang diyakininya. Ini berdasarkan pengakuannya pada saat bertemu dengan saya. Hal ini bisa saya benarkan karena kebetulan saya juga mengenal istrinya.
Apakah anda bisa konsisten melakukannya dan cukup persistent menjalankannya? Pilihan ada di anda, andalah orang yang paling berpengaruh untuk menentukan nasib anda sendiri. Ya ndak?

Jadi.... apakah KONSISTEN=PERSISTENT?

Jambi, Mar 11 2010

Rupiah di Mesjid


Pagi ini sekilas ku tengok berita menarik Metro TV saat aku keluar dari kamar hotel menunggu jemputan di lobby, terlihat gambar seorang anak kecil berkopiah sedang memijat tangan seorang lelaki yang sedang tiduran di emperan mesjid sambil tersenyum-senyunm karena tahu dia sedang di sorot oleh kamera

Kelihatannya sich… kegiatan ini dilakukan setelah ba’da dhuhur lah, karena terlihat masih terang di gambar TV.

Terdengar pembawa berita mewartakan bahwa adanya peluang usaha di sela ramadhan yang dilakukan oleh seorang anak di satu daerah. Background gambarnya adalah kegiatan si anak berkopiah tersebut.

Memang ternyata PELUANG USAHA itu ada dimana saja, siapa yang JELI melihatnya dan langsung mengambil ACTION maka dialah yang akan keluar sebagai pemenag.

Hal ini lah yang dilakukan oleh si anak kecil berkopiah yang memberikan jasa pemijatan entah itu namanya pijat refleksi atau hanya membantu mengendurkan otot-otot kaki dan tangan para musafir yang sedang lemas berpuasa dan mungkin sendang mengaso atau leyeh-leyeh di mesjid.

Si anak kecil berkopiah itu telah memberikan nilai LEBIH kepada para orang yang sholat di mesjid itu, tentunya si para penerima jasa itu tidak berkeberatan untuk memberikan tips sekadarnya.

Ya… peluang ada dimana saja kawan, tinggal apakah kita berani mengambil dan menindaklanjutinya.

Salam….